|
Live
to ride, ride to live emang
nggak bisa lepas dari gaya hidup die harder Bayoes, bro
daerah Cangkringan Km. 13, Solo-Jogjakarta ini. Selain biker
yang gape ngoprek motor-motor kolot doi juga
punya kerja sampingan yang rada langka buat komunitas motor lawas.
Gimana
nggak, kangkangan kesayangan, Matchless 350 cc 1954-nya pede
dijadiin ojek. Wilayah operasi, seputaran dusun Cangkringan. Mulai
malam sampai pagi doi pede menembus dinginnya udara sono.
“Profesi
ini udah aku jalanin 3 tahun. Montornya sendiri
dapat 4 tahun lalu,” buka pria berpostur ceking dan bertato naga di
kaki ini.
Ia
mengawali kisahnya. “Awalnya demen kongkow di warung dekat
rumah. Namanya warung Koboy. Ujug-ujug ada orang turun dari
bus, celingukan cari ojek,” ulasnya.
Prihatin,
doi nawarin nganter. Nah lho.., dia ternyata dibayar.
“Ya.., keterusan tuh. Daripada nongkrong nggak keruan
akhirnya jadi profesional. Sehari bisa dapat duit Rp 30.000,” girang
ayah satu putra yang masuk jadi anggota MACI Jogja ini.
Pernah
dia nganterin penumpang sampai dusun Salakan yang berjarak
lebih kurang 7 km dari daerahnya, persis jam 24.00 malam. “Kondisi
jalannya gaswat, bro! Pulangnya ban kempis, terpaksa nuntun
motor 6 km. Ngos-ngosan tuh,” ceritanya semangat.
Soal motor, doi pilih bentuk standar.
Supaya efisien dan lebih irit, karbu diganti produk baru,
CB125. Mesinnya seri B3LS. Piston orsi udah nggak layak
diledakkan busi. Jadinya pakai langkah kanibal dari Fiat 1000.
Kalau lagi senggang, doi demen banget solo
ride ke Bali, Lampung sampai Jakarta segala. Nah, tiap
lebaran, doi mudik bareng keluarga ke kampung halamannya,
Purworejo.
Oh ya, mumpung udah dekat Lebaran,
salam hangat, ied mubarok dari Em Plus buat keluarga. Tos,
mas! C-PI/Foto : Wenang
|