|
Drysdale
menyodok program GP 4-tak. Sekarang
beken dengan GP1 (GP one). Tak ada angin dan hujan, Drysdale
sontak bikin mesin V8 1000 cc. Propoganda itu memalingkan komunitas
MotoGP. Gagasan tembak langsung ini strategi promosi yang jitu.
Kendati hasilnya belakangan. Gertak dulu. Ikut pun belum pasti.
Maklum,
pasukan lain di MotoGP masih antara ya dan tidak. Eh, Drysdale teriak
seolah siap. “Karya kami tidak kalah. Konfigurasi silinder V sudut 80
dan 8 silinder. Kombinasi paling ideal buat motor balap,” bilang Ian
Drysdale, perancang V8 1000.
Alhasil, langsung populer di arena GP1. Padahal, pabrikan
bermarkas di Ostrali itu hanya meminjam basis moge jalan raya.
Ya, umumnya moge yang digeber IMBI. Itu lho ikatan manusia
besar, eh, Ikatan Motor Besar Indonesia. Seperti itulah.
Dibanding
kontestan GP1 dari merek lain, Drysdale paling banyak silindernya.
Melebihi Honda RC211V yang cuma 5 silinder.
Hanya
satu alasan perancangnya, dengan silinder banyak. Yakni, mendongkrak
rpm setinggi-tingginya. Diklaim Drysdale bergasing 20.600 rpm. Terang
saja, senjata dibutuhkan di sirkuit. Sama saja dengan senapang mesin.
Semakin
banyak silinder, stroke atau langkah torak jadi pendek-pendek.
Kalau kepanjangan, silinder bisa melebihi 1.000 cc dong. Otomatis, rpm
yang digapai kian tinggi. Putaran
mesin pun
tak perlu turun jauh mengantisipasi tikungan. “Distribusi
tenaga juga terbagi. Yang paling penting menekan getaran,” terang
Ian Drysdale seolah menyindir proyek Honda RC211V yang 5 silinder.
Bandingkan
dengan Suzuki XRE0 digeber Kenny Robers Jr., hanya sanggup berkitir
14.000 rpm. Atau Yamaha YZR-M1 dipacu Max Biaggi, cukup 15.000 rpm.
Tenaga
maksimal yang dimuntahkan bukan masalah dengan bobot 155 kg.
Dikomparasi dengan NSR500 2-tak, udah pasti menang. Ayo, coba
tengok tenaganya yang mencapai 165 kw alias 220 dk kitiran 20.600 rpm.
Sedangkan NSR500 pada 14.000 rpm, menghasilkan 140 kw setara 185 dk.
Kecepatan
maksimum mentok 360 km/jam. NSR500 cuma 340 km/jam. Lihat saja dari
spesifikasi teknis V8 1000, mengungguli Honda NSR500.
Sayangnya,
regulasi 4-tak tidak mengizinkan mesin 8 silinder. Artinya, Drysdale
hanya gertak sambal sembari gigit kerupuk. Merek ini hanya numpang
populer di kemelut GP1. Sampeyan pun tahu nama Drysdale. Iya,
kan. NF-17
|
TEKNOLOGI
45 TAHUN LALU |
|
Kilas
balik ke belakang, teknologi V8 1000 diaplikasi 45 tahun lalu. Dipakai
Moto Guzzi V8 500 dirancang oleh Ing. Carcano. Termasuk juga dibikin
Drysdale V8 750. Dengan 8
silinder dianggap lebih unggul dari motor lainnya.
Meski
belum pasti ikut GP1, pabrikan Drysdale menyiapkan sasis dan fairing
kompetisi. Nggak tanggung-tanggung, desain fairing
diserahkan desainer motor kondang dari Inggris, Glynn Kerr.
Tapi,
gimana bisa ikut MotoGP kalau 8 silinder?
|
|
Ian Drysdale
JENIUS
BUKAN TUKANG INSINYUR
|
|
Perancang Drysdale V8 1000 pria berusia 40 tahun. Punya nama
Ian Drysdale. Dilahirkan di Victoria, Australia. Doi bukan
tukang insinyur, meski pernah kuliah jurusan teknik mesin, universitas
Monash, Australia.
Pria brewok itu telah bikin motor berumur 13 tahun. Lajang yang
doyan dengar musik ini membuat motor kecil dengan 3 percepatan. Rangka
dari pipa air dibungkus lembaran baja. Sayang, ogah menyebut mesin
yang dipakai.
Pada 1994, Ian berkesempatan besar. Dia memimpin perusahaan
roda dua Ausdale Engineering Company di Melbourne, Australia. Gebrakan
mengesankan lahir pada 1998 dengan menciptakan Drysdale V8 750 cc
terinspirasi Moto Guzzi V8 500.
Komponen
Mesin V8 750 diambil dari berbagai merek. Seperti kepala silinder dari
Yamaha FZR400 dimodifikasi. Sisanya dari Kawasaki, Honda dan Suzuki.
Dan muncullah Drysdale V8 1000 yang bermimpi bertarung di MotoGP.
|
|