No. 146 / II - Sabtu 14 Desember 2001
Mailing List Newsletter Guestbook Forum Chatting


Drysdale V8 1000 

PROYEK GP 4-TAK GERTAK DOANG

 

Drysdale menyodok program GP 4-tak.  Sekarang beken dengan GP1 (GP one). Tak ada angin dan hujan, Drysdale sontak bikin mesin V8 1000 cc. Propoganda itu memalingkan komunitas MotoGP. Gagasan tembak langsung ini strategi promosi yang jitu. Kendati hasilnya belakangan. Gertak dulu. Ikut pun belum pasti.

Maklum, pasukan lain di MotoGP masih antara ya dan tidak. Eh, Drysdale teriak seolah siap. “Karya kami tidak kalah. Konfigurasi silinder V sudut 80 dan 8 silinder. Kombinasi paling ideal buat motor balap,” bilang Ian Drysdale, perancang V8 1000.

Alhasil, langsung populer di arena GP1. Padahal, pabrikan bermarkas di Ostrali itu hanya meminjam basis moge jalan raya. Ya, umumnya moge yang digeber IMBI. Itu lho ikatan manusia besar, eh, Ikatan Motor Besar Indonesia. Seperti itulah.

Dibanding kontestan GP1 dari merek lain, Drysdale paling banyak silindernya. Melebihi Honda RC211V yang cuma 5 silinder.

Hanya satu alasan perancangnya, dengan silinder banyak. Yakni, mendongkrak rpm setinggi-tingginya. Diklaim Drysdale bergasing 20.600 rpm. Terang saja, senjata dibutuhkan di sirkuit. Sama saja dengan senapang mesin.

Semakin banyak silinder, stroke atau langkah torak jadi pendek-pendek. Kalau kepanjangan, silinder bisa melebihi 1.000 cc dong. Otomatis, rpm yang digapai kian tinggi.  Putaran mesin  pun  tak perlu turun jauh mengantisipasi tikungan. “Distribusi tenaga juga terbagi. Yang paling penting menekan getaran,” terang Ian Drysdale seolah menyindir proyek Honda RC211V yang 5 silinder.

Bandingkan dengan Suzuki XRE0 digeber Kenny Robers Jr., hanya sanggup berkitir 14.000 rpm. Atau Yamaha YZR-M1 dipacu Max Biaggi, cukup 15.000 rpm.

Tenaga maksimal yang dimuntahkan bukan masalah dengan bobot 155 kg. Dikomparasi dengan NSR500 2-tak, udah pasti menang. Ayo, coba tengok tenaganya yang mencapai 165 kw alias 220 dk kitiran 20.600 rpm. Sedangkan NSR500 pada 14.000 rpm, menghasilkan 140 kw setara 185 dk.

Kecepatan maksimum mentok 360 km/jam. NSR500 cuma 340 km/jam. Lihat saja dari spesifikasi teknis V8 1000, mengungguli Honda NSR500.         

Sayangnya, regulasi 4-tak tidak mengizinkan mesin 8 silinder. Artinya, Drysdale hanya gertak sambal sembari gigit kerupuk. Merek ini hanya numpang populer di kemelut GP1. Sampeyan pun tahu nama Drysdale. Iya, kan. NF-17

 

TEKNOLOGI 45 TAHUN LALU

Kilas balik ke belakang, teknologi V8 1000 diaplikasi 45 tahun lalu. Dipakai Moto Guzzi V8 500 dirancang oleh Ing. Carcano. Termasuk juga dibikin Drysdale V8 750.  Dengan 8 silinder dianggap lebih unggul dari motor lainnya.

Meski belum pasti ikut GP1, pabrikan Drysdale menyiapkan sasis dan fairing kompetisi. Nggak tanggung-tanggung, desain fairing diserahkan desainer motor kondang dari Inggris, Glynn Kerr.

Tapi, gimana bisa ikut MotoGP kalau 8 silinder?

Ian Drysdale
JENIUS BUKAN TUKANG INSINYUR  

Perancang Drysdale V8 1000 pria berusia 40 tahun. Punya nama Ian Drysdale. Dilahirkan di Victoria, Australia. Doi bukan tukang insinyur, meski pernah kuliah jurusan teknik mesin, universitas Monash, Australia.      

Pria brewok itu telah bikin motor berumur 13 tahun. Lajang yang doyan dengar musik ini membuat motor kecil dengan 3 percepatan. Rangka dari pipa air dibungkus lembaran baja. Sayang, ogah menyebut mesin yang dipakai.   

Pada 1994, Ian berkesempatan besar. Dia memimpin perusahaan roda dua Ausdale Engineering Company di Melbourne, Australia. Gebrakan mengesankan lahir pada 1998 dengan menciptakan Drysdale V8 750 cc terinspirasi Moto Guzzi V8 500.

Komponen Mesin V8 750 diambil dari berbagai merek. Seperti kepala silinder dari Yamaha FZR400 dimodifikasi. Sisanya dari Kawasaki, Honda dan Suzuki. Dan muncullah Drysdale V8 1000 yang bermimpi bertarung di MotoGP.

<<::back

Copyright © 2000 Gramedia Majalah Online All right reserved.