No. 146 / II - Sabtu 14 Desember 2001
Mailing List Newsletter Guestbook Forum Chatting


HUKUM ALAM MENYAPU MONA

 


Mona yang punya perakitan. bakal panjang umur

 


Jual mona atau dagang kopi?

Seleksi alam berlaku pada mona. Satu demi satu tumbang. Tentu yang jauh dari manajemen profesional. Dan, hanya dibumbui purnajual berbau tipu. Artinya tidak serius menggali ladang binis motor amoy dan engkong ini.

Bayangkan, setahun lalu ratusan merek mona kayak jamur di musim kering. Banyak! Saking menumpuk, nggak gampang menghafal mereknya. Lebih dari 50 merek. Yang terdaftar di Depperindag, 100 merek lebih. Mereka berebut manarik konsumen.

Ambisi sih boleh aje. Tapi bener kata ahli evolusi Charles Darwin, seleksi alam berlaku. Maksudnya, siapa nggak bisa bertahan, tumbang dengan sendirinya. Taon ini banyak dealer mona runtuh. Sekali lagi, tumbang. Sekali lagi, mati.

“Target penjualan nggak kena. Akhirnya mereka beranggapan prospek mona kurang terbuka,” buka Marwan dari PT Suryainti Permata, Tbk (SP). SP pusat distributor Garuda se-Indonesia yang bermarkas di Surabaya. Mereka menutup main dealer di Jakarta.          

Itu diprediksi sejak awal. Misalnya, importir Bossini dan Honzu. Setahun lalu, PT CIA Motor International (CMI), memasok 800 unit berbagai tipe. Sekarang tinggal 100 unit. “Investasinya sebatas menjual. Nggak ada dana buat membangun pabrik dan jaringan bengkel,” ungkap Denny Chandra, mantan manajer pemasaran mona CMI.

Biar tetap bertahan, CMI beralih bisnis kopi. Bubuk hitamnya bermerek Bola Bica. Karena itu namanya ganti PT CIA International. Moga-moga dagangan kopinya stabil, Bos! Ini lebih realistis. Kopi dinikmati lidah Indonesia. Sedaaap...

Dealer utama mona Qingqi atas nama PT Triwira Mitra Abadi (TMA), juga gulung tikar. Tidur deh! Markasnya di Jl. Otista Raya, No. 101A, Jakarta Timur, tutup pintu. “Selama standardisasi main dealer, kami tutup dulu. Ini butuh waktu,” terang Robby Umbara, dirut PT Vivamas Qingqi Motor (VQM) di Jl. Tanah Abang II, Jakarta Pusat.

Ditanggapi Ridwan Gunawan dari Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI). Katanya, bisnis motor Cina semakin terseleksi. “Kuncinya niat importir bermain mona. Kalau cuma jualan doang, jangan berharap panjang umur. Bisnis motor bukan seperti jual kopi,” papar Ridwan.

Banyak pondasi bisnis yang harus dibangun. Memang butuh dana gede. Kalau perlu kerja sama dengan pabrikan Cina. Seperti kongsi Jincheng, Jialing, Jianshe, Loncini, dan Sanex dengan Qian Jiang.  “Sendirian nggak bakal sanggup. Suku cadang saja minimal Rp 5 miliar,” tanggap Herman Santoso, direktur utama PT Artamascipta Bangunabadi (AB) penjual Jincheng.

Jangan sampai jualan gula, Pak.  NF-17/Foto : Niko

 

KIATNYA BERTAHAN

Menurut Ridwan Gunawan, ketua umum AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia), ada bentuk konkret yang harus dipertahankan. Contoh, tanggung jawab kesiapan suku cadang. “Ini dilupakan pemain mona yang tumbang,” katanya.

Makanya, yang serius tetap bertahan. Bahkan mereka bikin investasi jangka panjang. “Investasinya diarahkan membangun pabrik perakitan. Juga memperbanyak jaringan pelayanan purnajual,” kata Ridwan.

Suku cadang pun perlu diperhitungkan rasionya. Misalnya, kesiapan kampas rem, jumlahnya harus 5 kali dari kampas rem per unit motor. “Rasio itu mesti jadi pertimbangan importir mona,” ulas Ridwan.

 

ke hal 2 >>

Copyright © 2000 Gramedia Majalah Online All right reserved.