|

Jual mona atau dagang kopi?
|
Seleksi
alam berlaku pada mona. Satu demi satu tumbang. Tentu yang jauh dari
manajemen profesional. Dan, hanya dibumbui purnajual berbau tipu.
Artinya tidak serius menggali ladang binis motor amoy dan engkong
ini.
Bayangkan,
setahun lalu ratusan merek mona kayak jamur di musim kering. Banyak!
Saking menumpuk, nggak gampang menghafal mereknya. Lebih dari
50 merek. Yang terdaftar di Depperindag, 100 merek lebih. Mereka
berebut manarik konsumen.
Ambisi
sih boleh aje. Tapi bener kata ahli evolusi
Charles Darwin, seleksi alam berlaku. Maksudnya, siapa nggak bisa
bertahan, tumbang dengan sendirinya. Taon ini banyak dealer mona
runtuh. Sekali lagi, tumbang. Sekali lagi, mati.
“Target
penjualan nggak kena. Akhirnya mereka beranggapan prospek mona
kurang terbuka,” buka Marwan dari PT Suryainti Permata, Tbk (SP). SP
pusat distributor Garuda se-Indonesia yang bermarkas di Surabaya.
Mereka menutup main dealer di Jakarta.
Itu
diprediksi sejak awal. Misalnya, importir Bossini dan Honzu. Setahun
lalu, PT CIA Motor International (CMI), memasok 800 unit berbagai
tipe. Sekarang tinggal 100 unit. “Investasinya sebatas menjual. Nggak
ada dana buat membangun pabrik dan jaringan bengkel,” ungkap
Denny Chandra, mantan manajer pemasaran mona CMI.
Biar
tetap bertahan, CMI beralih bisnis kopi. Bubuk hitamnya bermerek Bola
Bica. Karena itu namanya ganti PT CIA International. Moga-moga
dagangan kopinya stabil, Bos! Ini lebih realistis. Kopi dinikmati
lidah Indonesia. Sedaaap...
Dealer utama mona Qingqi atas nama PT Triwira Mitra Abadi (TMA),
juga gulung tikar. Tidur deh! Markasnya di Jl. Otista Raya, No. 101A,
Jakarta Timur, tutup pintu. “Selama standardisasi main dealer,
kami tutup dulu. Ini butuh waktu,” terang Robby Umbara, dirut PT
Vivamas Qingqi Motor (VQM) di Jl. Tanah Abang II, Jakarta Pusat.
Ditanggapi
Ridwan Gunawan dari Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI). Katanya,
bisnis motor Cina semakin terseleksi. “Kuncinya niat importir
bermain mona. Kalau cuma jualan doang, jangan berharap panjang umur.
Bisnis motor bukan seperti jual kopi,” papar Ridwan.
Banyak
pondasi bisnis yang harus dibangun. Memang butuh dana gede. Kalau
perlu kerja sama dengan pabrikan Cina. Seperti kongsi Jincheng,
Jialing, Jianshe, Loncini, dan Sanex dengan Qian Jiang.
“Sendirian nggak bakal sanggup. Suku cadang saja
minimal Rp 5 miliar,” tanggap Herman Santoso, direktur utama PT
Artamascipta Bangunabadi (AB) penjual Jincheng.
Jangan
sampai jualan gula, Pak. NF-17/Foto
: Niko
|
KIATNYA
BERTAHAN
|
|
Menurut
Ridwan Gunawan, ketua umum AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor
Indonesia), ada bentuk konkret yang harus dipertahankan. Contoh,
tanggung jawab kesiapan suku cadang. “Ini dilupakan pemain mona yang
tumbang,” katanya.
Makanya,
yang serius tetap bertahan. Bahkan mereka bikin investasi jangka
panjang. “Investasinya diarahkan membangun pabrik perakitan. Juga
memperbanyak jaringan pelayanan purnajual,” kata Ridwan.
Suku
cadang pun perlu diperhitungkan rasionya. Misalnya, kesiapan kampas
rem, jumlahnya harus 5 kali dari kampas rem per unit motor. “Rasio
itu mesti jadi pertimbangan importir mona,” ulas Ridwan.
|
|