|

Tampang Mito. Ngejar waktu

Tangki hidraulik lengkap keran bensin
|
Dominasi
hitam paduan merah, dikit garis putih, ciri kental Aprilia.
Begitu diteliti, malah jadi Cagiva. Fairing dan tudung lampu, jiplakan
Cagiva Mito. “Inilah hasil melaut,” tutur
Agus Salim, warga Kampung Makasar, Jakarta. Petualangan lautnya
lihat boks.
Toh
basis atau material mengandalakan Macan Noceng. Ya, Honda Tiger
2000 yang memang asik dibikin bongsor. Boleh dikata Aprilia Mito
diterkam Macan, dong. Ketiganya dicampur aduk jadi Cagiva eh, Aprilia,
eh lagi, Tiger 2000.
Katanya
sih, lebih tepat disebut Aprilia RSV Mille. Terutama tampilan warna,
nyaris Aprilia benaran. “Saya minta selesai tiga minggu. Pokoknya
harus selesai sebelum saya berlayar lagi,” perintah Agus pada Budi
Uddin Fakar. Itu lho, pakar modifikasi bodi dari Jatayu Motor
Sport di Jl. Tubagus Angke, Jakarta Barat.
Nego
Agus dan Budi kurang mulus. Tampilan lampu trapesium Mille butuh
penggarapan lama. Nggak bisa asal-asalan. Lantaran cetakannya
harus dilacak di limbah moge. Akhirnya disepakati Mille kawin Mito.
Tapi ada pesan yang nggak boleh dilanggar Budi, tampang boleh gambot,
tapi jangan kelebihan bobot.
Makanya,
rangka Tiger tidak banyak diutak-atik. Fairing dari serat gelas
dicetak lebih tipis. Tampang Mito jelas di lampu sipit dan pantat yang
dinamis tipis. Lampu pun bekerja layaknya Mito. Satu lampu dekat,
lainnya lampu dim.
Justru
paling sulit tangki bahan bakar. Cara kontrasepsi kondom dianggap nggak
layak. Alasannya, tangki orsi Tiger kelewat bongsor. Juga
palang di belakang rumah setir (back bone) Tiger,
aslinya tinggi. Jika diberi kondom, jelas tambah tambur. Ini nggak sesuai
pesanan dong.
Jalan
atu-atunya, tangki orsi digusur dan dibuat cetakan baru.
Otomatis, tangki tak perlu gembung-gembung yang bikin perut tambur
membentur di situ. Juga kontur tangki dibikin agak rendah
mengantisipasi tingginya back bone tadi.
Istimewanya,
tangki bikinan ini bisa bisa terangkat secara hidraulik. Kalau baut L
dekat komstir dilepas, tangki bergerak
nungging. “Konstruksinya sengaja begitu, biar gampang dan cepat
merawat aki dan busi,” kata Agus.
Sayang..,
jadwal tetap karet. Mulur dari perjanjian 3 minggu. Selesainya
sebulan. Agus pun nggak sampe seminggu kangen-kangenan dengan
hasil modif. Dia harus good bye dari daratan. Makanya
ketika sesi pemotretan, empunya keburu melaut. Terpaksa diwakili Dono
sang kakak. Sinyo/Foto : Gt
|
DIFOTO
PAKAI PERAN PENGGANTI |
|
Pelaut
jauh dari keluarga, itu pasti. Tiap lirik jendela kapal, cuma
gelombang biru yang ada. Paling hiburannya baca majalah terbitan londo
(baca: luar negeri) dan nonton tipi.
Untungnya,
Agus Salim doyan baca majalah kuda besi luar negeri. Termasuk majalan
terbitan akhir. “Waktu itu saya langsung ingat Tiger di rumah,”
kenangnya.
Hari-harinya
di tengah berlayar, dilalui dengan khayalan punya besutan ala moge.
Begitu berlabuh, di tanah air jadilah modifikasi itu. “Gue mesti
mofikasi.” Hi..
hi.. dia lebih fasih bilang mofikasi ketimbang modifikasi.
Tapi nggak sampai lupa anak istri kan, Mas? “Nggak dong!”
|
|
Data
Modifikasi
|
| Pelek
depan |
Enkei ex-CBR 400 |
| Ban
depan |
Battlax BT 35R 110/70x17 |
| Pelek
belakang |
Enkei ex-CBR 400 |
| Ban
belakang |
Battlax BT 35R 130/80x17 |
| Sokbreker
depan |
Orisinal |
| Belakang
|
monosok Showa |
| Setang |
Kawak KRR |
| Knalpot |
Micron |
| Dana |
Rp 10 juta |
|