|

Desain
crasher sedikit rada nongol

Tangki
Coca Cola. Bukan bermaksud promosi lho!
|
“Emang kelihatan
ringkih. Kelewat ceking, terutama sektor tulang-belulang depan,”
buka Robani ‘Roy’ Sugiarto di pinggir pantai Kenjeran, Surabaya,
Jawa Timur.
Robani otak pembikin kuda
besi roda tiga atau trike. Mesinnya pake Toyota Starlet 1.500
cc. Tapi depannya centang, renggang, dan ngangkang abis.
“Depannya kurang kokoh, ya Cak,” tambah Priyo Basuki alias
Oeqyq Londo. Dia paketu klub Cobra tempat Roy alias Robani
bergabung.
Toh
nggak tahu kenafa.., Em-Plus malah suka desain
depannya. Sepertinya sosok kilas balik chopperis taon 70-an.
Serbacentang. Rumah setir terbuka lebar, roda menjorok jauh, lingkar
roda dan karet bundar kurus, kering kerontang. Ini ciri chopper
pada era itu.
Bagian
muka ini ibarat pemberontakan G30S PKI. Eh, meleset. Maksudnya,
memberontak dari desain konstruksi motor mapan. Boleh disebut
antiteori, deh.
Chopperis
pemuja
aliran ini, pasti tutup kuping soal handling dan kekuatan.
“Masa bodo! Lu, kritik deh, kita nggak peduli.
Patah? Itu khan risiko,” itu jawaban die harder chopperis termasuk
Mas Robani ini.
Oakley deh.., tilik
teliti sokbreker depan trike Mas Robani ini. Pebengkel mobil di
kawasan Kedung Anyar Surabaya ini pake gaya springer atau
sokbreker ulir. Pegasnya sosoknya irit banget. Didampingi variasi
pipa-pipa kecil malang melintang macam jala.
Ini
berlaku pada tulang bawah di belakang komstir atau underbone.
Termasuk yang duduk di atasnya alias tangki crasher ‘peti
mati’. Tangki serbaruncing dengan modif lidah api.
Semakin
belalang, setang menjulang tinggi macam tangkai gelantungan monyet.
Makanya disebut ape hanger. Lengkungan setang demi posisi rider
di jok ala sport bikinan Bandung.
Tanya,
Cak! Mesin sampeyan gede, kok tangkinya secuil. “Ha..
ha.., ketipu lu! Itu variasi doang, supaya bagian tengah
nggak kosong. Tangki sejatinya di samping kanan jok. Aslinya
tabung Coca Cola, aku gamit di tukang loak,” senyum Robani. Isf@n
|
BELAKANG
TANTE BAHENOL |
|

Ban slick
bikin pantat makin gambot
|
Lain depan yang macam
belalang, lain pula pantat. Bener-bener tante bahenol.
Dua roda nyentrik dilapisi ban slick Advand buatan Jepang
dipadu pelek mobil Daihatsu.
Mesin? Biasanya trike mengandalkan Mazda, Daihatsu atau VW.
“Aku pilih Starlet, keluarga Toyota,” terangnya.
Konstruksi mesin Starlet
memudahkan modifikasi. Soale tipenya penggerak roda depan (front
wheel drive). “Ini menyatukan elemen penting macam girboks dan drive
shaft (as kopel),” kata pria kalem ini.
Dengan
peggerak depan, nggak perlu mikirin rehabilitasi gede
sektor cross joint. Coba kalau penggerak belakang (rear
wheel drive), butuh cross joint panjang. “Nah, kalau
dibikin trike, kudu modif peranti joint tadi. Duit wajib
tambah,” enteng Robani.
Dibantu mekanik andal
Sapi’i, Roy tinggal mikir komponen penunjang. Suspensi belakang
milik Isuzu Panther yang kuat mengganjal gajlukan. Makin
seimbang upper dan lower arm
Mazda 323. Performanya bisa disetel.
Bagaimana dengan kabel gas
yang puanjang banget? “Oh gampang, Cak! Tinggal adopsi
perangkat Honda Prestige berikut booster rem produk PBR buatan Ostrali,”
jelas pria yang fasih logat Surabaya ini.
Lha,
Wong sono, kok!
|
|
MESIN
STARLET NGANGGUR |
|
Sejarahnya, pelanggan Roy
ingin ganti mesin Starlet 1.000 cc jadi 1.500 cc. Dia beli dari limbah
Singapura. Entah kenapa, nggak jadi ganti.
Ketimbang nganggur,
ditebus tuh mesin. Inspirasinya dari majalah luar. Tentu
nggak langsung contek. Urusan sasis dipakai pipa 1,5 inci. Pipa
inilah pemegang mesin gambot, yang diapit pelat setebal 4 mm.
Supaya nggak geli,
dipasang engine bunting, eh mounting Suzuki Katana kiri
dan kanan. Sedang depan adopsi Daihatsu Zebra.
Guncangan
mesin masih dibantu sokbreker pendek milik Mercy. “Karena
pengalaman waktu turing, engine mounting depan patah,”
jelasnya.
|
|