No. 146 / II - Sabtu 14 Desember 2001
Mailing List Newsletter Guestbook Forum Chatting


Superbike  

GP 4-TAK DATANG SUPERBIKE GAS TERUS

 


Maurizo Flamini. Bingung

 

Ayo World Superbike (WSBK), pasti kamu terus terang. Eh, terang terus. Jangan gentar dengan sinar MotoGP 4-tak. GP 4-tak belum terbukti sebagai hulubalang balap. Beda dengan kamu yang punya aroma sendiri. Kamu  bersentuhan langsung dengan penonton.

Juga, wahai Om Maurizio Flammini (bos Octagon Motorsport penyelenggara WSBK), jangan terlalu cemas. Jangan pula beraksi keras dengan munculnya GP 4-tak. “Lagian FIM kurang waspada. Sekarang MotoGP pake mesin 4-tak, berarti ingin membunuh Superbike,” khawatir Om Flammini.

Om Flammini marah-marah begitu lantaran kaget aja. Otaknya dibakar emosi. Dia mengira, perubahan regulasi MotoGP ngaruh pada mainannya. “Keduanya punya kemiripan sih. Membingungkan penonton,” kata Flammini yang Italiano rada reda.

Dipikir jungkir balik, WSBK tetap unggul. Aromanya dekat dengan penonton. Lha, penonton penyimak WSBK semuanya menunggangi moge ke arena. Kalau pun tidak, di garasi ada moge setara. Ya, macam kuda besi road race Indonesia. Aslinya buat ke pasar, ada juga di balap. Rame deh penontonnya.

Ini tidak didapat di arena GP 4-tak. Apalagi teknologi GP-tak yang dipromosikan adopsi langsung dari F1. Ini membuat motor GP semakin jauh di hati. Walau sampeyan punya uang sekarung, motor ini nggak bisa dibeli dan dipacu di jalan raya. Kecuali nekat. Makanya, sulit diukur. Seperti menyimak motor khayalan alias impian.

Ini didukung Carl Foggarty, mantan petarung Superbike di jok Ducati. Foggy, begitu dia disapa, saat ini punya tim WSBK sendiri. Itu hasil kerja bareng Sauber Petronas Malaysia.

Nah, si Foggy menuding, GP 4-tak saja yang ikut-ikutan dengan WSBK. Ini pun sudah terlambat. Sebab, “Pengelola WSBK mencapai top manajemen. WSBK telah membentuk peminat, penonton, fans, pabrikan yang fanatik,” bilang Foggy.          

Boleh dikata, WSBK promo yang jitu buat pabrikan moge. Lihat aja, nyaris semua penjual moge berlaga di sana. Juga ajang uji coba komponen motor harian. Termasuk oli. “Ini yang memaksa Sauber Petronas ikutan. Jika GP 4-tak lebih bagus, kenapa mereka nggak fokus ke situ?” tanya Foggy.

Kubu Ducati pun tidak terpancing ke GP 4-tak. Alasannya, nama Ducati kelewat wangi di WSBK. Sejak dibuka kejurdu Superbike 1988, Ducati menyabet 9 kali juara dunia pembalap dan konstruktor. Lima juara dunia lainnya dilimpahkan ke Honda.

“Untuk apa beralih ke GP 4-tak? Membingungkan. Operasionalnya terlalu tinggi. Otomatis dananya besar,” elak Claudio Domenicali, petinggi racing Ducati di markasnya, Italia.

Satu-satunya yang dikhawatirkan sekarang soal jadwal. “Bayangkan, dua kejuaraan setara dipentas hampir bersamaan. Wah, ribet deh,” tanggap Neil Tuxworth, juragan tim Castrol Honda WSBK.

Jangan takut. NF-17/Foto : Nanang Baso/Otomotif 

ke hal 2 >>

Copyright © 2000 Gramedia Majalah Online All right reserved.