|
Ayo
World Superbike (WSBK), pasti kamu terus terang. Eh, terang
terus. Jangan gentar dengan sinar MotoGP 4-tak. GP 4-tak belum
terbukti sebagai hulubalang balap. Beda dengan kamu yang punya aroma
sendiri. Kamu bersentuhan
langsung dengan penonton.
Juga,
wahai Om Maurizio Flammini (bos Octagon Motorsport penyelenggara
WSBK), jangan terlalu cemas. Jangan pula beraksi keras dengan
munculnya GP 4-tak. “Lagian FIM kurang waspada. Sekarang MotoGP pake
mesin 4-tak, berarti ingin membunuh Superbike,” khawatir Om
Flammini.
Om
Flammini marah-marah begitu lantaran kaget aja. Otaknya dibakar
emosi. Dia mengira, perubahan regulasi MotoGP ngaruh pada
mainannya. “Keduanya punya kemiripan sih. Membingungkan penonton,”
kata Flammini yang Italiano rada reda.
Dipikir
jungkir balik, WSBK tetap unggul. Aromanya dekat dengan penonton. Lha,
penonton penyimak WSBK semuanya menunggangi moge ke arena. Kalau pun
tidak, di garasi ada moge setara. Ya, macam kuda besi road race
Indonesia. Aslinya buat ke pasar, ada juga di balap. Rame deh
penontonnya.
Ini
tidak didapat di arena GP 4-tak. Apalagi teknologi GP-tak yang
dipromosikan adopsi langsung dari F1. Ini membuat motor GP semakin
jauh di hati. Walau sampeyan punya uang sekarung, motor ini nggak
bisa dibeli dan dipacu di jalan raya. Kecuali nekat. Makanya, sulit
diukur. Seperti menyimak motor khayalan alias impian.
Ini
didukung Carl Foggarty, mantan petarung Superbike di jok Ducati.
Foggy, begitu dia disapa, saat ini punya tim WSBK sendiri. Itu hasil
kerja bareng Sauber Petronas Malaysia.
Nah,
si Foggy menuding, GP 4-tak saja yang ikut-ikutan dengan WSBK. Ini pun
sudah terlambat. Sebab, “Pengelola WSBK mencapai top manajemen. WSBK
telah membentuk peminat, penonton, fans, pabrikan yang
fanatik,” bilang Foggy.
Boleh
dikata, WSBK promo yang jitu buat pabrikan moge. Lihat aja,
nyaris semua penjual moge berlaga di sana. Juga ajang uji coba
komponen motor harian. Termasuk oli. “Ini yang memaksa Sauber
Petronas ikutan. Jika GP 4-tak lebih bagus, kenapa mereka nggak fokus
ke situ?” tanya Foggy.
Kubu
Ducati pun tidak terpancing ke GP 4-tak. Alasannya, nama Ducati
kelewat wangi di WSBK. Sejak dibuka kejurdu Superbike 1988, Ducati
menyabet 9 kali juara dunia pembalap dan konstruktor. Lima juara dunia
lainnya dilimpahkan ke Honda.
“Untuk
apa beralih ke GP 4-tak? Membingungkan. Operasionalnya terlalu tinggi.
Otomatis dananya besar,” elak Claudio Domenicali, petinggi racing
Ducati di markasnya, Italia.
Satu-satunya
yang dikhawatirkan sekarang soal jadwal.
“Bayangkan, dua kejuaraan setara dipentas hampir bersamaan. Wah, ribet
deh,” tanggap Neil Tuxworth, juragan tim Castrol Honda WSBK.
Jangan
takut. NF-17/Foto : Nanang Baso/Otomotif
|