|
“Seorang pengendara tewas setelah terjatuh dari motornya saat adu kebut-kebutan pada Jumat malam”. Kayaknya informasi yang disampaikan tidak lagi mengejutkan, karena kerap menghiasi halaman surat kabar menyusul maraknya aksi para pembalap liar di beberapa ruas jalan di Ibu Kota.
Kehadiran para pembalap liar alias pebali ini sudah menjadi hal yang biasa. Bukan saja di kota besar, fenomena mereka juga hadir di kota-kota kecil.
Meski banyak keluhan masyarakat, namun mereka tetap saja melakukan aktivitas itu. Terlebih pada Ramadhan lalu. Aksi mereka malah jadi tontonan gratis yang mengundang perhatian banyak orang. Balap liar tidak lebih sebagai ajang pembuktian nyali, meskipun tidak sedikit pula yang bertaruh dalam jumlah besar dalam setiap balapan.
 Sebut saja Dimas dan Andre, tiap Sabtu dinihari bersama skubeker Jakarta Selatan membelah jalur protokol Jakarta untuk balap motor otomatis. “Tetap menggunakan perlengkapan safety. Helm, jaket sarung tangan juga sepatu. Pokoknya aman,” jelas keduanya beralasan.
Seperti raja jalanan, bersama teman-temannya mereka menggunakan traffic light sebagai lampu start. Dengan finish pada lokasi yang telah mereka sepakati.
Berada di atas motor dan memacunya dengan kecepatan tinggi merupakan suatu kenikmatan tersendiri. Segi keamanan berada di nomor kesekian. Apa untungnya sih bagi pebali itu?
Dari beberapa keterangan mereka, selain sebagai ajang pembuktian nyali, beberapa joki itu mendapatkan bayaran dari si pemilik motor apabila dapat memenangkan balapan.
Bengkel tempat seting tunggangan mereka tidak kalah diuntungkan, karena kalau motor balap setingan mereka sering menang balapan, maka bisa dipastikan bengkel bakal kebanjiran order.
Pihak kepolisian sendiri tidak tinggal diam dengan adanya fenomena ini. Polda Metro Jaya diwakili Kepala Bidang Humas, Kombes Chrysnanda Dwi Laksana, mengatakan pihak kepolisian Jakarta selalu mengadakan razia. “Bahkan pada Ramadhan lalu, kami mengandangkan puluhan motor yang kedapatan melakukan balap liar ini,” jelasnya.
Ia juga menilai, salah satu cara untuk mengatasi balap liar ini adalah dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. “Beri ruang kepada pembalap amatir ini untuk ikutan pada balap profesional. Tentunya agar hasrat kebut-kebutan mereka tersalurkan secara baik dan benar.”
NILAI POSITIF
Jika dikaji mendalam lelaku balap liar mengandung beberapa nilai positif. Em-Plus memantau beberapa momen anak-anak balap liar yang bakal menerima tantangan lawannya. Misal saat menemani komunitas BNK Performance, komunitas balap liar asal Perumnas Tangerang, Karawaci, Banten tengah malam menjelang sahur beberapa waktu lalu.
Pukul 21:00 WIB, mekaniknya Devaldi sudah sibuk meramu tunggangan dan dites berkali-kali. Ada sisi edukasi dan semangat tampil terbaik di momen ini.”Kami kan merasakan ‘sakitnya’ kalah taruhan, makanya motor harus tampil dalam performa terbaik,” katanya sambil main-mainin kunci T.
Semangat tampil prima dan tak menyediakan ruang kesalahan menjadi energi positif untuk jadi yang terbaik. Sipnya nggak ada anggota komunitas yang nganggur, semua saling mengisi dan bantu setidaknya nemenin nongkrong agar suasana nggak suntuk.
Manajemen sebelum balapan juga terasa bersinergi. Beberapa anggota komunitas lawan maupun kawan berkordinasi mengamankan trek termasuk ‘bersih’ dari razia aparat kepolisian.
Pengaturan yang lumayan rapi ini membuahkan kekompakan yang jarang didapat komunitas non balap liar. Bicara soal ini mereka termasuk punya rasa solider tinggi. Keselamatan joki dan pertaruhan uang yang didapat dari saweran jadi pemicu mengentalnya rasa senasib sepenanggungan sampai pada saat kritis seperti terjadinya kecelakaan atau digaruk polisi.
Wakil lawan dan kawan mengawasi di tiga titik, start, pertengahan dan finish. Mereka saling awasi kalau-kalau ada kecurangan. Sikap sportif bisa tumbuh di sini. Maklumlah taruhannya terkadang nyawa atau paling apes motor dirazia polisi.
Aura kebersamaan terjalin di antara sesama pelaku bali. “Karena kami bukan untuk mencari uang, biasanya terjalin komunikasi komponen apa yang bisa membuat skubek lebih ngacir,” papar Dimas.
”Nggak akan pernah puas kalau kalah, mekanik dan joki menjadi penasaran dan menantang ulang lawannya sampai menang,”kata Yudi PJ mekanik yang kerap menangani balap liar.
NILAI NEGATIF
Paling memperihatinkan tentu saja nyawa melayang sia-sia.”Beberapa waktu sebelum lebaran, trek-trekan di Jl. Aries, Jakarta Barat memakan korban. Pas ngetrek, mereka dirazia polisi. Dua motor RX-King dan Yamaha Mio panik dan memacu motornya secara berlawanan. Mereka saling tabrakan, 2 rider tewas di tempat bahkan sampai terlempar ke pagar tol Kebon Jeruk-Tangerang,” jelas Yudi PJ.
Kasus tewas saat ngetrek memang sudah sangat banyak. Anehnya, jarang dari joki ngetrek memakai peranti keselamatan yang memadai. ”Feelingnya kurang kena kalau pakai helm,” aku Damar, joki BNK Performance, Tangerang.
Potensi tawuran antargeng juga mungkin terjadi. Beberapa pelaku ngetrek bilang, kadang joki main kotor seperti nutup dengan zig-zag atau manuver membahayakan. Biasanya ini memacu keributan antar komunitas atau geng motor. Tak cuma itu,sportivitas saat taruhan kadang diabaikan. ”Bisa terjadi yang kalah ogah bayar dengan berbagai alasan, curi start lah..atau berbagai alasan lain. Suasana juga kadang panas hingga jika ada provokator, keributan sering terjadi,” bilang Damar.
Terjadi hubungan yang tak harmonis posisi menjadi lawan antara aparat dan pelaku trek-trekan. Saat persiapan balap misalnya, banyak polisi berpakaian sipil ada di antara komunitas untuk menghalau dan memeriksa brother yang sedang nongkrong. Kucing-kucingan antarpolisi dan tukang ngetrek kerap terjadi dan sangat membahayakan keselamatan khususnya jika mereka kabur secara membabi buta.Kasus tewasnya dua rider Yamaha Mio dan RX-King sebagai contoh nyata yang begitu mengerikan.
Kecemasan orang-orang yang kita cintai seperti orang tua, adik-kakak juga wajib jadi bahan perhitungan. Mereka mengalami siksaan psikologis saat brother terutama joki trek-trekan beraksi. Jika kalian sayang mereka, ini juga jadi bahan pertimbangan dan jadi efek negatif ngetrek.
Em-Plus ikut merasakan saat seorang joki dan mekanik berpamitan para orang tua masing-masing untuk melakukan trek-trekan. Walau tidak diutarakan secara langsung terbersit kekhawatiran para orang tua apakah anaknya bisa melewati malam dengan selamat?
Ini mungkin menjadi pertimbangan juga bagi para hobbies dengan meminimalisasikan resiko seperti memakai helm atau bertarung di balapan resmi. Anehnya banyak kalangan joki juga mekanik justru kurang suka memakai peranti keselamatan dengan alasan yang kurang logis seperti kurang feeling atau lainnya. Kita harus sadar bahwa tak ada yang tahu saat apes menyerang.
Bukan begitu, Bro?
Penulis/Foto : Isf@n, Hend/Adib, Isf@n
|