|
Kalau novelis almarhum Pramoedya Ananta Toer membuat buku sang Pemula, di dunia klub matik, klub ini bolehlah disebut sebagai sang pemula. Brothers yang tergabung di klub matik yang sekarang tumbuh di mana-mana layak salut sama komunitas satu ini.
Awalnya dari belasan brothers yang ngumpul di Parkir Timur, Gelora Bung Karno, Senayan. persis di bawah Patung Panahan. Uniknya, mereka tergila-gila motor matik, ada Kymco, Sanex, Kanzen, dan juga Bosowa Hyosung.
Juga beberapa merek lain mulai kapasitas rendah, 50 cc, 75 cc, 100 cc sampai 125 cc. Merek-merek di atas merupakan ATPM yang lebih awal mengembangkan tipe skubek dibanding merek Jepang.
Nah akhir 2003, mereka menyambangi komunitas matik di Bandung. ”Beberapa rekan sowan ke sana seperti Yayan, Lutfi Upazy, Oplu, Nolan, Ogre dan beberapa lagi,” kisah Novaro Rambing salah satu senior saat itu.
Perjalanan Jakarta-Bandung termasuk berkesan. Mereka lewat Karawang-Purwakarta dalam berbagai medan dan coba melintasi jalan tol Cikampek-Padalarang yang belum lagi rampung. ”Sampai di Bandung tidak tidur di hotel tapi ngampar di rumah saya. Ini jadi kenang yang tidak terlupakan,” papar Novaro Rambing lagi.
Kisah manis terus bergulir. Dari kolabroasi Jakarta dan Bandung inilah, cikal bakal kelahiran klub. Pengaruh modifikasi ekstrem datang dari anak-anak Bandung yang doyan ’menyiksa’ motor skubeknya ke jalur off-road. Dari situ mereka terpengaruh untuk membuat skubek menjadi scrambler sejati dan cuek melintasi jalan kategori adventure. ”Dari situlah anak-anak Jakarta terdorong membuat klub berjuluk Jakarta Matic alias Jakmac yang persisnnya berdiri pada 14 September 2003,” kata para senior klub ini.
Lucunya, pengaruh brothers mereka di Bandung tetap menempel. Jakmac jadi doyan membuat skubeknya beraliran scrambler. ”Jalur adventure ektrem kami jajal, penguatan sasis dan paduan roller yang ideal untuk jalan kribo menjadikan klub ini sangat unik. Kami yakin, motor matik tak hanya gape dijajal di jalan mulus dan buat kaum hawa tapi juga bisa macho dan kuat di jalur ekstrem,” jelas Jacky didampingi 9 pendiri lainnya yakni Wahyu, Dimas, Ipang, Rambing, Yunan, Gigih, Doni, Ato dan Kirman.
Tak cuma itu, bengkel anggota klub juga jadi getol ngulik motor matik mereka jadi kencang dan sering ikutan balap liar alias bali.
Kini setelah hampir satu dasawarsa skubek wara-wiri di jalanan, perkembangan tipe ini sangat mengagumkan. Tidak ketinggalan klub yang eksis pun juga semakin banyak dan bervariasi.
Sipnya, klub ini sampai sekarang masih tetap eksis. ”Di sela kesibukan kami sehari-hari, life members Jakmac masih menyempatkan diri ngumpul di belakang Circle K, Radio Dalam, Jakarta Selatan. Atau juga sowan bengkel Okky, ketua Jakmac sekarang yang ada di bilangan Jl. Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Sukses buat Jakmac!
Penulis/Foto : Isf@n/Istimewa
|