|
Pemain baru untuk katagori ban racing bertambah lagi. Giliran Indoparts yang nyasar ban skubek ring 14 inci diberi nama Indo Tire Racing. Pattern atau kembangan sama dengan versi harian, tapi versi racing memiliki kompon lembut yang sesuai kebutuhan skubek kencang di sirkuit. Kamis 22 Januari 2009 kemarin, Indoparts memberi kesempatan kepada pembalap dan wartawan untuk menguji langsung. Pada kesempatan ini jajal Indo Tire Racing tipe A dan C. Kedua tipe kompon ini hasil seleksi sebelumnya dari 4 macam kompon (A, B, C dan D).  Tipe A memiliki kompon lebih lembut. Diukur durometer compound, menunjukan angka 58. Sedang tipe C sedikit lebih keras yaitu 60. Ukuran ini sangat lembut dibanding ban harian yang punya kekerasan 72. Pantas jika Indo Tire Racing lebih menggigit aspal. Dilihat dari pattern, ban ini memang adaptatif untuk hujan maupun kering. Cirinya pada garis yang menjorok sampai ke bibir pinggir ban. “Tapi karena tipis sekali, tidak mengganggu stabilitas saat diajak nikung,” yakin Willianto Husada, Deputy Head, PT Sentral Sole Agency, distributor ban Indo Tire. Penasaran pengin rasakan performanya, apakah laik jadi ban racing, Em-Plus turunkan tim penuh spesialis balap. Yaitu Eka, Herry Axl, Chuenk dan Marcel.
BALAP SESUNGGUHNYA Pengetesan diset layaknya balap betulan. Ada pemimpin lomba, marshal dan petugas kamar hitung. Sehingga memaksa pembalap dan wartawan geber abis. Sebagai pemicu, pemenang akan diganjar hadiah, ini yang memaksa rebah sampai nempel aspal. Dibatasi 10 pembalap, 6 orang dari Bandung dan 4 dari Jakarta. Menggunakan Yamaha Mio bore up 150 cc. Dimaksudkan supaya didapat power gede, kan ban Indo Tire Racing akan dipakai balap skubek yang rencananya bakal digelar 4 seri di 2009 ini. Hasilnya oke. “Meski digeber sampai rebah, tidak ngesot,” jelas Beny Pria Nursandi, wakil pembalap Bandung. “Mungkin karena kompon lunak, ban kuat mencengkram aspal,” tambah Doran Satria dan R-Gus, mewakili pembalap Jakarta. Balap dibuat dua race dan tiap race dapat poin. Race 1 dan 2 sama-sama 10 lap. Berbeda dengan race khusus wartawan. Race pertama 5 lap dan race 2 diganjar 7 lap. Oh, ya, skubek yang dipakai buat wartawan juga sudah spek bore up 150 cc. Kelas Wartawan dibatasi 10 orang. Terdiri dari 4 perwakilan MOTOR Plus (Axl, Eka, Chuenk dan Marcel). Tabloid Otomotif 3 orang (Jotos, Atenx dan Kentung), Otomotifnet.com (Sulis) dan Otosport (Yongki). Race khusus wartawan hasilnya mengagetkan. Juara pertama diraih Tim MOTOR Plus. Dengan pembalap dadakan Chuenk Sugeng Budiarto. Hore…… aplaus dulu dong. Plok plok plok…. swit… swiiit…
UJI KETAHANAN JUGA Ban racing komponnya lunak dan cepat habis. Dikhawatirkan gundul sebelum balap selesai. Untuk itu diuji juga ketahanannya. Dibuat 25 lap keliling sirkuit. Lebih banyak dari lap balapan skubek yang hanya 17 lap. Tim Wartawan ada dua, grup MOTOR Plus 5 orang dan Otomotif 5 orang, masing-masing grup geber 1 Yamaha Mio standar. Grup Em-Plus jajal tipe ban C dan Otomotif ban A. Setiap wartawan dijatah 5 putaran. Hasilnya kedua tipe kompon ini masih tebal. Artinya kembangan ban tidak habis sebelum waktunya.
DUROMETER
Dalam pengetasan ban tidak hanya dilakukan metode lapangan. Tapi ada juga metode laboratorium. “Untuk mengukur kekerasan kompon ban digunakan alat yang namanya durometer,” jelas Andreas D. Sugih, direktur PT Indomobil Bhupala. Pengukuran harus dilakukan sebelum ban dipakai. Ketika dilakukan pengukuran, ban Racing Indo Tire tipe A kerasnya 58. Sedang ban tipe C yaitu 60. “Makin keras hasil pengukuran, ban akan tahan lama. Tapi kurang kuat dalam mencengkram aspal,” jelas Andreas. Ban Racing Indo Tire komponnya lebih lunak dibanding ban jalanan. “Rata-rata ban untuk harian punya kekerasan 72,” jelas Andreas. Perlu diketahui juga, ban yang dipakai untuk QTT (Qualification Time Trial) untuk mencari pole position di balap MotoGP punya kompon lunak. Kekerasannya sampai 40.
TERMOMETER KHUSUS Dalam pengetesan performa ban juga menggunakan termometer khusus. Iya khusus untuk mengukur suhu ban sesudah pemakaian. Indikasi ban bagus jika rentang suhu sebelum dan sesudah pemakaian tidak begitu jauh. Andaikan sebelum pemakain 25 derajat dan sesudah pemakaian 40 derajat, berarti selisihnya 15 derajat. Lebih bagus jika dibanding ban lain misalnya sesudah pemakaian 50 derajat. Rentangnya 25 derajat, yang sangat jauh bedanya. Ban seperti ini kurang bagus.
KOREKSI
Geber naik Mio standar saat endurance sampai 25 lap, tester MOTOR Plus merasakan ban cukup konsisten. Demikian juga saat balap 12 lap dengan Mio bore up 150 cc, tetap terlayani baik kala menikung.
Tapi masih kurang pede. Ukuran ban mengganggu percaya diri untuk lebih rebah lagi. Profil ban saat pengetesan baru tersedia 80/90-14 inci. “Memang kita akui. Tapi jangan khawatir, profil 90/80-14 pun sudah disiapkan,” ungkap Willianto yang juga distributor helm KBC dan Spark itu.
Penulis/Foto : Aong, Chuenk, Eka/Endro
|