Find Us On Social Media :

Kasus Penipuan Beli Sembako Rp 50.000, Barter Kredit Motor

By Motorplus, Minggu, 23 Februari 2014 | 11:45 WIB
()

Penipuan bermodus paket sembako murah sudah kerap terjadi. Akhir cerita umum sih, bayar di muka tapi paketnya nggak sampai. Ah itu mah kuno! Sekarang modus penipuan sejenis makin canggih dan pastinya juga makin runyam.

Coba cermati apa yang terjadi di Kampung Baru, Pos Pengumben Jakarta Barat. Gimana nggak, ada oknum  yang masih tetangga dekat menawarkan tawaran menggiurkan. Pinjam istilah mafia sih, tawaran yang nggak bisa ditolak!

“Gimana nggak, mereka memberi paket sembako murah. Hanya dengan  Rp 50 ribu, warga Kampung Baru diberi mie instan satu bungkus, beras sekarung plus telur. Dihitung harga normal, harga itu masuk Rp 200 rebuan,” buka salah seroang warga yang enggan namanya disebut.

Menurut warga lain, setelah uang diberikan, sembako datang bertahap. “Pertama mie instan dulu, lantas beras kemudian baru telur,” lanjut mereka.

Syarat yang berminat gampang, cuma fotokopi KTP dan Kartu Keluarga (KK) sebagai syarat administrasi dari oknum ini.  Fotokopi KTP dan KK yang disetor ke oknum ini disalahgunakan untuk syarat kredit motor.

Walhasil saat ada tunggakan, penagih hutang datang ke kediaman warga berdasarkan KTP dan KK mereka. Maklum, para penjahat ini memanfaatkan kemudahan kredit motor yang cuma menyetorkan fotokopi dua keterangan penting, KTP dan KK.     

Ketidakberesan program ini baru tercium sebelan setelahnya. Tak disangka, datang debt collector dari leasing menagih pembayaran.”Lha kita bingung, kita dibilang menunggak cicilan beberapa jenis motor dari sebuah perusahaan finance. Katanya kami kredit V-ixion, Jupiter Z, Mio dan sebagainya. Warga jelas panik, kok mereka datang ke kediaman kami,” geram seorang warga.

Menurut mereka kahadiran debt collector dari pihak leasing ini sempat memancing emosi.
Yang aneh dan nggak masuk akal, oknum yang menawarkan tawaran mengiurkan itu masih tetangga dekat. “Terang aja nggak ada kecurigaan, lha wong tiap hari bertemu,” jelas seorang warga.

Logikanya, jika ada niatan jahat atau menipu, akan gampang ketahuan dan tetangga itu pasti mendapat masalah dari warga yang terkena apes tadi. Dan benar saja, setelah itu tetangga yang bersangkutan menghilang dari peredaran. Dari sini beberapa spekulasi bermunculan. Kalau memang oknum itu berniat menipu, harusnya tak melakukan aksinya di kampung sendiri. Atau tak menutup kemungkinan, oknum yang menipu itu justru ditipu atau dimanfaatkan pihak lain yang tak bertanggung jawab

Menurut warga kasus ini sudah diusut pihak kepolisian Resort Metropolitan Jakarta Barat, Polsek Kebon Jeruk. “Beberapa warga dimintai keterangan sebagai saksi kasus ini,” tukas warga  Kelapa Dua yang minta namanya tidak dicantumkan.

Lain keterangan warga lain pula informasi dari pihak kepolisian. Saat MOTOR Plus mendatangi Polsek Kebon Jeruk, didapat keterangan bahwa belum ada laporan atau pemanggilan warga terhadap kasus ini. Bisa jadi kasus ini diselesaikan secara kekeluargaan atau masih dalam proses penyelidikan. Yang jelas, kasus ini memberikan pelajaran berharga untuk tidak sembarangan memberi dokumen data diri. (www.motorplus-online.com)