Find Us On Social Media :

Drag Bike Sukoharjo, Jadi Tempat Reuni Tunggangan 2-tak Yang Kabarnya Sudah Nggak Produksi Lagi

By Motorplus, Sabtu, 19 April 2014 | 09:11 WIB
()

Drag bike jadi tempatnya mesin dua langkah tetap bertahan. Di balapan lurus bisa membantah kalau 2-tak sudah tenggelam. Apalagi, tinggal Kawasaki yang masih memproduksi Kawasaki Ninja 150 yang bermesin 2-tak. Sisanya pabrikan sudah stop produksi sekitar 8 tahun lalu.

Faktanya bisa ketahuan di gelaran balapan lurus Yonif 413 Drag Bike The Battle 201m Championship (YDBBC). YDBBC digarap Club Motor Solo (CMS) yang berkolaborasi dengan Salax Speed. YDBBC mampu menyedot 455 starter yang separonya pengguna motor 2 nada.

Motor-motor 2-tak di balapan yang digelar di sirkuit Jl. Raya Bekonang-Palur, Mojolaban, Sukoharjo, enggak kalah gengsinya dengan mesin 4 ketuk.

“Dari 18 kelas yang kita buka, tujuh kelas di antaranya merupakan kelas yang mengadu motor-motor 2-tak. Di kelas yang pakai motor 2-tak jumlah starternya selalu gemuk,” beber Lilik Kusnandar dari CMS. Dari sinilah membuktikan kalau motor 2-tak tetap diminati, meskipun di pabrikan sudah stop produksi.

Sebenarnya apa yang membuat motor 2-tak tetap menjadi pilihan sebagian besar pembalap dan mekanik? Pastinya mereka punya argumentasi yang menyangkut biaya dan tingkat kemudahan bikin motor 2-tak untuk balapan lurus.

“Sebenarnya hitungan biaya membangun motor 2-tak dan 4-tak tidak terpaut jauh,” jelas Muflikun yang selalu mengawal dragster kecil nasional, Hendra Kecil.

Yang membedakan bikin mesin 2-tak dan 4-tak, biaya yang besar untuk awal seting. Artinya, setelah mesin dianggap jadi, sebelum turun balap motor disetting dulu.

“Ini menyangkut biaya porting ulang saluran masuk, buang, maupun transfernya. Kalau terjadi kesalahan maka harus ganti dengan blok silinder yang baru. Ini yang bikin mesin 2-tak terasa tinggi,” tambah Wawan Kristianto, juruk korek Abakura Ditra Jaya, Solo.

Tetapi, jika desain porting sudah pas, biaya perawatan 2-tak menjadi lebih murah dibandingkan 4-tak. “Kebanyakan tim memilih motor 2-tak dengan pertimbangan modal di awalnya besar, tapi selanjutnya biaya jadi ringan,” beber Rully PM yang yang tergabung di tim Creampie Shop Faito, Jogjakarta.

Selain itu didukung pula adanya komunitas motor 2-tak yang sampai saat ini masih eksis. “Banyaknya starter di kelas sport 2-tak tidak terlepas dari banyaknya komunitas pemakai Kawasaki Ninja 2-tak. Sehingga kelas yang dibuka di drag jadi wadah,” beber Santo Dwi A, pimpinan lomba YDBTBC tersebut.

Harus dipertahankan! (www.motorplus-online.com)