Find Us On Social Media :

Karena Treknya Layak, Pembalap Puas Turun di MotorPrix Region 1, Seri IV Sawahlunto. Berikut Alasannya..

By Motorplus, Selasa, 22 April 2014 | 18:42 WIB
()

Sirkuit Kandi yang terletak di Sawahlunto, Sumatera Barat jadi tempat bersaingnya 192 starter. Rider yang datang mewakili jagonya balapan Sumatera bertarung di trek sepanjang 1.200 meter.

Meski kondisi sirkuit Kandi terlihat kurang terurus karena sudah lama tidak digunakan, tim dan pembalap tidak terlalu kecewa. Berbeda dari tiga seri sebelumnya, tim dan pembalap selalu mengeluhkan kondisi sirkuit yang diangggap tidak layak untuk event kejurnas.

“Sirkuit Kandi memang jauh dari pusat kota. Tetapi, kami tim merasa puas karena sirkuit yang digunakan permanen dan cukup memadai. Bukan asal dekat dan ramai penonton saja,” keluh Roy Versero Siregar, pemilik tim Yamaha Yamalube RPM BTKS NHK FDR KYB AHRS, Medan.

Tim dan pembalap menuntut PP IMI melakukan pertimbangan untuk sirkuit yang jadi lokasi kejurnas MotorPrix. Apalagi, di region 1 jarak antar kota berjauhan. Selain waktu, banyak biaya yang sudah dikeluarkan tim datang ke lokasi.

Sangat wajar kalau mereka kecewa jika sampai di lokasi sirkuitnya tidak layak. “Kalau masih seperti ini terus, tahun depan kami stop. Kapok. Cuma cari untung sendiri, kualitas tidak dijaga. Tim dan pembalap yang selalu jadi korban,” tambah Apmansyah Tanjung, Manager Tim Yamaha Yamalube Scorpii NHK 3DI TDR YONK JAYA FDR AHRS SSS, Medan.

Para pembalap yang paling dirugikan jika bertanding di trek yang tidak layak. Bukan materi atau tenaga saja, tapi nyawa mereka yang dipertaruhkan. Apalagi, jika bermain di sirkuit dadakan. Jangankan gravel, karung pasir dan ban penjaga saja terkadang letaknya tidak beraturan.

"Keselamatan pembalap yang harusnya dipikirkan matang-matang. Main di sirkuit dadakan sangat berbahaya. Musuhnya trotoar. Malah, terkadang pohon yang melintang," sebut Rizki Yoanda, rider Yamaha Yamalube Denas Intan Jaya KYT FDR HR AHRS.

Peran juri dari PP IMI yang memberi keputusan layak atau tidaknya sirkuit sangat terbatas. Kebanyakan juri belum tahu lay out atau lokasi sirkuit sebelum tiba di lokasi. Ini yang bikin repot. Padahal, tim dan pembalap sudah banyak yang tiba di lokasi dengan biaya tinggi.

“Keselamatan pembalap dan penonton masih jadi penilaian utama juri. Untuk lay out sirkuit dadakan, kami upayakan agar benar-benar aman saat dipakai. Kalau kondisi sirkuit bermasalah, akan dilaporkan ke PP IMI,” ucap Abdurrachman, Juri MotorPrix Sumbar dari PP IMI.

Sebenarnya, keinginan tim dan pembalap simpel. Mereka hanya meminta PP IMI bisa lebih memikirkan masalah sirkuit untuk kejurnas. Seharusnya, event sekelas kejurnas PP IMI tidak hanya mengeluarkan jumlah seri dan kota penyelenggara saja. Tapi, harus sudah ada lokasi sirkuit dan prediksi layoutnya. Dengan begitu, tim dan pembalap sudah ada bayangan sebelum balap.

Wajib dipatuhi! (www.motorplus-online.com)