Find Us On Social Media :

Kisah Mistis Riding di Hutan Blora

By Motorplus, Sabtu, 10 Januari 2015 | 08:15 WIB
()

Bagi saya, misteri selalu bikin penasaran. Inilah kiasah mistis riding di hutan Blora, Ngawi, Jawa Tengah. Banyak yang bilang hutan ini punya magis dan sangat misterius. Ditemani Suzuki TS 125 yang terkenal tangguh saya pede menembus hutan sejauh 40 km itu.

Rute yang dilalui sebenarnya tidak terlalu rumit. Kondisi jalan tak mulus dan rusak di beberapa bagian, sama sekali bukan masalah. Problem paling utama bukanlah jalan, apalagi motor. Hutan ini sungguh sunyi dan kadang bikin keder. Mitos-mitos yang melingkupinya mempengaruhi saya saat riding.  Silakan lanjut baca kisah mistis riding di hutan Blora

JATUH TANPA SEBAB…INI ANEH!

Mentari hangat jam 8 menemani saat start. Blora memang tak pernah kehilangan pesona dan membuat saya selalu ingin riding mengitari zona ini. Perlengkapan turing dan kunci-kunci saya persiapkan. Di kota Blora, saya juga sempat membeli kepala Rusa sebagai pajangan kamar sesampainya di Jakarta nanti. Journey dengan kisah mistis riding di hutan Blora dimulai. 

Pemandangan sepanjang perjalanan sungguh memukau. Sebelum masuk ke dalamnya hutan, sempat beristirahat dan menikmati suasana di Gubug Payung, areal wisata di wilayah ini. Hutan jati seakan setia memayungi solo ride saya. Di kejauhan tampak gunung Lawu, ‘terselip’ diantara pepohonan jati yang terkesan angkuh itu.

Sensasi paling terasa saat masuk wilayah berjuluk  Mbanjarjo, Kelurahan Mbanjarwangi, Kabupaten Ngawi. Itu adalah wilayah hutan jati perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Ada perasaan aneh  saat melintasinya. Cuaca yang tadinya cerah mendadak berkabut. Rasa sunyi dan dingin ‘menyerang’. Jalanan yang tidak beraspal membuat saya wajib ekstra hati-hati.

Walau konsentrasi penuh, saya mengalami keanehan yang sulit diterima nalar. Tiba-tiba saya terjatuh. Walau tak alami cidera berarti, sungguh heran. Syukurlah motor tidak rusak, tanpa buang waktu cepat-cepat motor dirikan, slah dan untungnya hidup! Lekas-lekas meninggalkan tempat itu menuju Ngawi.

KATA SESEPUH

Kira-kira menempuh perjalanan 9 kilometer melintasi kedalaman hutan, saya sampai di Ngawi. Mulailah Sebagai peturing dan adab yang pantas, saya sempatkan silaturahmi dengan sesepuh di sana. Dalam pertemuan itu, sempat saya perbincangkan tragedi saya jatuh di zona Mbanjarjo. ”Apakah ananda membawa jimat atau benda-benda bertuah sepanjang perjalanan?” tanya beliau. Tentu saja jawab tidak. Saya hanya membawa kepala rusa untuk pajangan. ”Itulah masalahnya! Di sini, harus bersih! Tidak boleh membawa benda-benda keramat, termasuk hasil buruan seperti kepala rusa itu. Siapapun yang melanggar, akan tertimpa bala, bisa terjatuh ataupun tersesat,” jelasnya.

Dalam hati saya masih bersyukur. Energi yang ada di hutan itu mungkin masih berbaik hati. Saya hanya jatuh tanpa sebab dan tidak tersesat.  Namun yang jelas, saya mendapatkan pengalaman berharga dan membuat saya semakin respek pada kharisma hutan Blora. (www.motorplus-online.com)