Find Us On Social Media :

Journey MoVe di Bandung

By Rumi, Jumat, 23 Juni 2017 | 09:30 WIB

Beberapa waktu lalu (9/4) pukul 03:00 dini hari, sebagian member yang tergabung di Modern Vespa (MoVe) Bandung berkumpul di area pom bensin Cisangkan, Cimahi.

Walau udara dingin tak menyurutkan semangat untuk antar empat rekannya yang akan riding 2.000 KM melintas Sumatera.

Adalah Suci Rizki Andini, Dipo Jaya Setia, Husni Muthohari dan Reza Zulmi.

Mereka riders yang membawa misi dengan tema Harmoni Dalam Budaya.

Yup, Harmoni Dalam Budaya adalah nama yang dibawa dalam Riding Someah (sopan santun), yaitu memperkenalkan  budaya Sunda ke Sumatera Barat dengan melewati beberapa kota yang mempunyai kebudayaan berbeda.

Setiap kota yang disinggahi, riders akan memberikan buku sebagai bentuk berbagi dan menawarkan budaya membaca di Indonesia.

Start pukul 04:00 WIB, keempat riders diantar tiga rekannya sampai Kota Bogor.

Di kota hujan ini mereka berpisah, tapi seorang rekannya yang berencana akan kembali ke Bandung, memutuskan ikut sampai Merak.

Adalah Raka Yanisdhia yang akhirnya berencana mengantar sampai pelabuhan Merak.

Saat beristirahat di daerah Banten, Bro Raka berasa kurang afdol kalau tidak ikut nyebrang bareng keempat riders. “Siang hari gini matahari lagi terik–teriknya, lagian kembali ke Bandung sendirian… ihh males..,” bilang Bro Raka.

Akhirnya tanpa direncanakan Bro Raka ikut riding tuh jajal aspal Sumatera. Padahal doi tanpa persiapan lho, alias cuma bawa baju satu yang nempel di badan doang hehee.

Sekitar pukul 15:30 sampai di pelabuhan Bakauheni Lampung dan beristirahat di Bandar Lampung untuk mempersiapkan perjalanan esok hari.

Esok hari dipilih jalur Timur menuju Palembang, walau kondisi jalan berlubang dan debu, mereka tetap semangat. Sekitar daerah Tulangbawang, mereka sempatkan istirahat di mini market, dan uniknya ada anak SD yang baru pulang sekolah. Mereka sangat heran dan antusias melihat Vespa yang mungkin didaerahnya masih jarang.

Dan tim pun berkesempatan berbagi cerita bareng anak berseragam putih merah itu. Tidak lupa memberikan perlengkapan alat tulis untuk mereka bertiga yang telah disiapkan. “Memang sengaja kami menyiapkan beberapa paket alat tulis untuk diberikan kepada adik-adik yang kebetulan berpapasan dengan kami selama perjalan,” jelas Dipo Jaya Setia. Sampai di Palembang, MoVe Palembang sambut mereka sekaligus ajak kopdar bareng dan beristirahat di Hotel Mentari yang sekaligus sekretariat MoVe Palembang.

Dihari ketiga, Bro Raka harus kembali ke Bandung. Dengan berat hati mereka berpamitan dan melanjutkan Riding Someah menuju Kota Jambi sekaligus perpisahan mereka dengan MoVe Palembang. Menempuh 340 Km yang merupakan jarak terpendek dalam perjalanan ini, mereka sempatkan makan siang di rumah makan Tahu Sumedang. Loh koq ada RM Tahu Sumedang? Yup, mereka dengan senangnya bersantap siang karena berasa dikota sendiri. “Serasa lagi makan di Bandung, soalnya bisa ngobrol bareng orang Parahyangan,” kompak mereka.

Perjalanan dilanjutkan menuju Pekanbaru yang sebelumnya bermalam di kota Jambi. Melewati jalanan berbukit, ditemani hujan sepanjang jalan dan view indah diantara bukit kecil. Sayangnya, tim Riding Someah tidak sempat bertemu MoVe Pekanbaru yang berencana menjemput di perbatasan dikarenakan hujan.

Dilanjutkan menuju Kota Padang, mereka semakin bersemangat malah dirasakan trek ini punya banyak kesan. Sekitar pukul 12.00 WIB sampai di jembatan kebanggaan masyarakat Indonesia, yaitu Kelok 9. Terlihat keceriaan dari para riders yang akhirnya dapat menginjakan kaki di jembatan yang katanya belum ke Sumatera Barat kalo belum sampai di Kelok 9.

Charity Di Pantai Pasir Jambak

Menuju kantor sekretariat LSM Gugah Nurani Indonesia untuk berkordinasi acara Harmoni Dalam Budaya. Disambut kemeriahaan adik-adik sekolah dasar yang semangat dan antusias menunggu tim.

Diawali menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama dilanjut pengetahuan budaya Jawa Barat. Macam alat musik tradisional Jawa Barat seperti angklung, kecapi dan lainnya. Selain itu mereka praktekan lagu tradisional seperti Manuk Dadali dan Es Lilin. Serunya, membuat mereka tertawa karena tidak terbiasa mengucapkan logat Sunda. Kemudian acara dilanjutkan bermain perepet jengkol dan oray-orayan.

Acara ditutup dengan melakukan edukasi tentang pentingnya membaca. Sekaligus membagikan buku bacaan untuk disimpan diperpustakaan Gugah Nurani Indonesia lengkap dengan alat tulis.

Oh ya, selama riding Someah, menjadi pengalaman dan kesan tersendiri bagi tim. Macam cerita bro Dipo, saat menginap di salah satu hotel, saudaranya nanya ada kejadian apa bermalam di hotel tersebut. Ternyata hotel yang disinggahi bangunan yang hancur oleh gempa pada 2009 lalu. Sontak mereka merinding saat diceritakan sering ada kejadian mistis diluar nalar alias gaib.

Berbeda dengan Husni Muthohari, yang ogah menyia–nyiakan riding sepanjang 2.000 KM ini. Saat di daerah Kampung Bali-Lampung, ada mobil hitam tanpa plat nomer belakang dengan kecepatan tinggi melewati para rider. Tepat di depan, mobil mengeluarkan 2 anak ayam yang sudah mati setiap kurang lebih 2 meter, hingga terhitung jumlahnya 7, langsung deh berpikiran negatif. “Takutnya tanda buruk bagi kami tapi Alhamdulillah lancar, mungkin itu bagian dari adat setempat,” jelas Bro Husni.

Kesan lain diceritakan Bro Reza Zulmi, perjalanan panjang bikin doi ngantuk. Dirasa dengan bejek gas sambil sundul rider di depan bakalan hilangkan kantuk, penyemplak Vespa GTS kelir hitam ini berhasil.

“Sampe yang belakangpun ikutan tambah RPM tuh hahhaa..eits tapi bukan ugal- ugal loh,” jelas karyawan C59 ini. Serunya lagi saat sebelum masuk kelok 9 bro. Jalan yang didominsai kelokan tajam bikin Suci Rizki Andini (Uci) lady bikers yang ikut dalam misi Harmoni Dalam Budaya rada kesulitan berbelok dengan kecepatan tinggi. Hingga tertinggal dibelakang akibat Zulmi, Husni dan Dipo asyik ‘cornering’ dijalur tersebut.

Oh ya, Suci Rizki Andini (Uci) adalah atlet bulutangkis wanita Nasional yang tergabung di MoVe Bandung sejak tahun lalu. Uci tertarik bukan hanya karena turingnya. Tapi, memperkenalkan budaya Jawa Barat dan memberikan buku untuk anak sekolah dasar. Alasan digagas awal bulan, karena Uci pertengahan April sudah mulai padat jadwal pertandingan.

Hal menarik bagi mahasiswi STKIP Bandung ini dijadikan pelajaran dan pengalaman, yaitu trek yang cukup berat. Tapi, karena tim work yang apik menjadikan perjalanan lancar tanpa kendala apapun sampai pulang kembali ke Bandung.

“Suatu kebanggaan tersendiri bisa sampe Padang dengan misi kegiatan sosial, walau perjalanan 5 hari tapi terbayar dengan 2 jam ketemu anak pesisir, kami belajar dan bermain bersama,” kenang penyemplak Vesap Primavera Putih.

“Mudah-mudahan kedepan banyak yang ikut berpartisipasi dari riders lain maupun pihak sponsor,” kompak mereka. (www.motorplus-online.com)