Find Us On Social Media :

Bikin Geger! Penelitian Kenaikan Tarif Ojek Online, Dampaknya Malah Negatif Buat Driver?

By , Senin, 06 Mei 2019 | 19:00
Ilustrasi Gojek dan Grab

"Jika diklasifikasikan berdasarkan zona maka besarannya adalah 67% di Zona I, 82% di Zona II, dan 66% di Zona III,” tambah Rumayya.

Sebagai tambahan, Rumayya menjelaskan rata-rata kesediaan konsumen di non Jabodetabek untuk mengalokasikan pengeluaran tambahan, sebesar Rp 4.900/hari.

Jumlah itu lebih kecil 6%, dibanding rata-rata kesediaan konsumen di Jabodetabek yang mencapai Rp 5.200/hari.

“Oleh karena itu, Pemerintah perlu berhati-hati dalam pembagian tarif berdasarkan zona,” tegas Rumayya.

Baca Juga : Awas SPBU Nakal Premium Dioplos Dijual Seharga Pertalite atau Pertamax

Daya beli konsumen di wilayah non-Jabodetabek yang lebih rendah, harus dimasukkan ke dalam perhitungan Pemerintah

Terbatasnya kesediaan membayar konsumen, didorong oleh 75,2% konsumen yang berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah.

“Selain itu, faktor tarif ternyata menjadi pertimbangan utama bagi keputusan konsumen untuk menggunakan Ojol," ungkap Rumayya.

Sebagai bukti, sebanyak 52,4% konsumen memilih faktor keterjangkauan tarif sebagai alasan utama.

Baca Juga : Sempat Terlindas di Moto2 Jerez 2019, Begini Kondisi Terkini Dimas Ekky Dari Kru Honda Team Asia

Dibalik suka duka 10 driver ojek online ini akhirnya terbayar dengan menyandang gelar 'Juara Partner Go - Food' (Go-Jek.com)

"Jauh mengungguli alasan lainnya, seperti fleksibilitas waktu dan metode pembayaran, layanan door-to-door, dan keamanan,” tambah Rumayya.

"Oleh karena itu, perubahan tarif bisa sangat sensitif terhadap keputusan konsumen," tukasnya.