Kombinasi 2 pembalap ini terhitung sukses, karena tampil dominan di kejurnas balap roadrace di musim 1999.
Namun akhirnya Hendriansyah memutuskan pindah tim, dan bergabung dengan tim CMS Inter Biru milik Edwin Bongso alias Koh Apeng.
Baca Juga: Nostalgia Kupas Yamaha F1Z-R Inter Biru CMS Racing Team 2001
Rivalitas Ahmad Jayadi (nomor 17) versus Hendriansyah (nomor 1) lebih dulu heboh di balap motor ketimbang Rossi versus Lorenzo di MotoGP (Youtube/OtoRace)
Bersama tim Yamaha CMS Inter Biru, Hendriansyah yang menggeber Yamaha F1ZR garapan Kerry "Bob" Hoetama kembali berjaya.
"Gabung di CMS, kontraknya sekitar Rp 30 jutaan, namun saya memilih dibayar Koh Apeng bukan dengan uang," tukas Hendri.
Hendri mendapat saran dari ayahnya Sudirman Bawarie, untuk mengganti kontrak uang dengan barang.
"Tepatnya racing parts, jadi saya dibayar part-part motor biar bisa bisnis di Jogja," buka Hendri.
Baca Juga: Soal Karier Valentino Rossi di MotoGP, Bos Yamaha Yakin Banget Tetap Balapan, Ini Faktanya
Kontrak yang dibayar racing part ini, menjadi salah satu pencetus lahirnya speed shop milik Hendriansyah.
"Dari situ, saya punya barang-barang buat dijual di toko Hendriansyah Racing Shop," sebut Hendri.
Setelah balap bersama Yamaha CMS Inter Biru, Hendri mendapat tawaran bergabung dengan pabrikan lain yaitu Suzuki.
"Dari Suzuki, saya dapat tawaran membuat tim sendiri dengan komposisi 1 pembalap, besaran kontraknya sekitar Rp 500 juta," jelas Hendri.