Perbedaan skor yang cukup besar antara masing-masing aspek menandakan bahwa tingkat kesadaran masyarakat untuk berperilaku aman dan selamat saat berada di jalan masih relatif rendah.
Dari hasil studi tersebut, diketahui ada sejumlah faktor yang berkontribusi pada terjadinya pelanggaran lalu lintas, antara lain:
- Pengendara terburu-buru sebesar 70,8 persen
- Rambu lalu lintas yang tidak terlihat sebesar 49,4 persen
- Kondisi jalanan sepi sebesar 48,8 persen
- Tidak ada petugas yang mengawasi sebesar 44,9 persen
Baca Juga: Bikers Catat Nih! Jangan Jadikan Airbag, Stop Boncengin Anak di Depan
Ketua Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Darmaningtyas menjelaskan, masyarakat saat ini belum peduli pada keselamatan, kecuali mereka yang bergerak di sektor transportasi.
Hal ini dapat dilihat pada fenomena "emak-emak penguasa jalan" yang sempat ramai dibicarakan masyarakat beberapa waktu lalu.
"Mereka tidak paham terhadap berlalu lintas, tapi sekadar bisa naik motor saja. Ini yang banyak dikeluhkan oleh pengguna jalan lain," kata Darmaningtyas dalam webinar.
Ia menilai saat ini belum ada suatu program dari pemerintah yang bertujuan membangun budaya keselamatan berkendara.
Baca Juga: Street Manners! Sering Disepelein, Lampu Rem Mati Bahaya Buat Keselamatan Berkendara Loh
"Pemerintah belum punya program yang sistematik untuk membangun budaya berkeselamatan," ujar dia.