Juragan melihat peluang pengarajin asal Garut, cukup terkenal jago di dunia fasion.
Pada pertengahan 1997, jualannya pun mulai dilirik.
Akhirnya lahir lah nama AHRS pada produk jualannya.
"Nama AHRS itu dari pengrajin disana, pakai nama Asep Hendro Racing Sport disingkat AHRS," ceritanya.
Baca Juga: Perjalanan Jauh Lebaran 2021, Cocok Nih Pakai Jaket Modis Tapi Safety
Kemudian ia memutuskan untuk mengembangkan lagi bisnisnya dengan membuat racing suit asli buatan lokal.
Peluang pembuatan racing suit dinilai cocok karena saat itu pembalap tanah air masih menggunakan brand luar negeri.
Ini yang membuat para pembalap Indonesia harus mengeluarkan kocek lebih.
Sementara wearpack bikinan pria yang memulai karirnya sebagai pembalap grastrack pada 1988 ini ditawarkan jauh lebih murah.
Bayangkan nih pada tahun 1998 hingga 2000am hanya baju balap luar negeri dibanderol dengan harga mulai 8 jutaan.
Sementara baju balap AHRS hanya dibanderol Rp 2,1 juta.
Meski lebih murah, keraguan pembalap dengan kualitas produk lokal masih sayang besar.
Ini jadi kenangan pahit Juraga karena baju balap AHRS tidak langsung diterima.