Seneng mengaku dialah yang menguburkan anjing-anjing lain milik tetangganya yang mati.
Seneng dan warga lainnya meyakini, anjing-anjing itu memang mati karena racun.
“Mereka dikasih makan telur yang diberi racun, besoknya kita temukan bangkai mereka,” ungkapnya.
Budi Santoso, Kepala Pengamanan MGPA (Mandalika Grand Prix Association) mengatakan, pihaknya tidak melakukan tindakan apapun untuk menangani hewan seperti sapi dan anjing yang masih ada di pemukiman warga.
Meski hal itu diakuinya sebagai ancaman bagi kelancaran balapan WSBK Indonesia 2021.
Baca Juga: Keunikan WSBK Indonesia 2021 di Sirkuit Mandalika Yang Tidak Ditemui di MotoGP
"Itu ancaman, ancaman bisa kita hadapi, untuk memperkecil ancaman itu, ancaman itu bisa kita hindari, kita kurangi, kita pindahkan atau mungkin dihadapi, dan untuk sapi dan juga anjing, kita tidak melakukan apa-apa," jelas Budi.
Demi kelancaran WSBK Indonesia 2021, keberadaan anjing dan sapi dihindari dengan cara membuat pagar mengelilingi sirkuit.
Sementara itu, Corporate Comunication ITDC, Ester Ginting menjelaskan, dalam pengembangan destinasi pariwisata yang dikelolanya, ITDC selalu memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan.
ITDC juga berkomitmen untuk selalu menghormati hak masyarakat serta menjaga keberlangsungan kehidupan lingkungan sekitar.
Terkait isu anjing liar, dia memastikan, ITDC tidak melakukan hal tersebut.
"Kami pastikan tidak pernah mengeluarkan kebijakan penanganan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku," ungkap Ester dikutip dari Kompas.com, Senin (22/11/2021).
"Kami memasang pagar yang rapat di sekeliling sirkuit agar anjing yang sudah dihalau tidak kembali masuk ke sirkuit," tutupnya.