Padahal untuk bensin dengan nomor oktan atau RON 92, kompetitor sudah menetapkan harga sekitar Rp 17.000 per liter.
Sebab secara keekonomian harga pasar telah mencapai Rp 17.950.
Ilustrasi mengini BBM motor di SPBU Pertamina. (Dok. Pertamina)
"Kita masih menahan (Pertamax) dengan harga Rp 12.500, karena kita juga pahami kalau Pertamax kita naikkan setinggi ini, maka shifting ke Pertalite akan terjadi, dan tentu akan menambah beban negara," ungkap Nicke dalam keterangannya, dikutip Sabtu (9/7/2022).
Padahal tingkat konsumsi nasional untuk Pertalite sangat besar.
Berdasarkan catatan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dikutip dari migas.esdm.go.id, konsumsi Pertalite nasional di 2021 sebesar 23 juta kiloliter (KL) atau hampir 80 persen dari konsumsi BBM nasional.
Baca Juga: Harga Pertalite Akan Naik Jad Rp 10 Ribu Per Liter Pertamina Kasih Penjelasan Resmi
"Tahun 2020 konsumsi Pertalite turun karena pandemi Covid-19. Namun, tahun 2021 konsumsinya meningkat lagi hingga 23 juta KL."
"Sedangkan tahun ini diproyeksikan pada kisaran 23 juta KL," kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan tertulis, Jumat (11/3/2022).
Nah, hal ini yang membuat anggaran subsidi BBM di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 bengkak menjadi Rp 502,4 triliun.
"Harga Pertalite, Pertamax, Solar, elpiji, listrik itu bukan harga yang sebenarnya, bukan harga keekonomian."
"Itu harga yang disubsidi oleh pemerintah yang besarnya, hitung-hitungan kita tahun ini subsidinya Rp 502 triliun. Angkanya gede sekali," ujar Presiden Joko Widodo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi 2022, Kamis (18/8/2022).
Besarnya alokasi subsidi BBM ini menurut Jokowi, tidak bisa terus menerus ditanggung oleh APBN yang terbatas.