Sebelumnya Ridwan mampu memproduksi hingga 35 unit mesin SPBU mini setiap minggunya.
Namun sejak harga Pertalite naik, volume produksi mesin SPBU mini merosot sampai 50 persen.
Spesialis produksi mesin pom bensin mini atau SPBU mini di Cianjur, Jawa Barat. (KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMAN)
"Sudah bisa produksi dua unit sehari saja sekarang sudah bagus," ucapnya.
Ridwan mengaku, usahanya sempat membaik sejak awal tahun ini setelah hampir dua tahun lesu dampak pandemi Covid-19.
"Selama pandemi nyaris tidak produksi, baru tahun ini mulai ada peningkatan, tapi turun lagi sekarang karena (kenaikan) BBM ini," lanjut Ridwan.
"Jadinya, ya kembang kempis gitu," imbuhnya.
Di bengkel miliknya di Kampung Kabandungan, Sukamanah, Kecamatan Karangtengah, Cianjur ini, Ridwan dibantu beberapa orang pegawai memproduksi mesin pom bensin mini digital.
Walau pengerjaannya masih terbilang sederhana dengan peralatan teknik ringan, tapi bengkel ini dapat membuat sistem kerja mesin secara digital layaknya mesin SPBU beneran.
"Ini kan yang jenis pom mini digital, sudah komputerisasi, aplikasi dan software-nya juga kita buat sendiri di sini,” kata dia.
Sejak mulai usaha tahun 2014, mesin SPBU mini buatan Ridwan sudah tersebar di Jabodetabek.
Untuk mesin pom bensin mini digital single nozel dijual Rp 5 juta per unit.