"Ini quality control yang sudah berjalan selama ini," tambahnya.
Penampakan botol berisi cairan disebut perbandingan warna Pertalite lama (kiri) dan Pertalite setelah naik harga jadi Rp 10.000 per liter (kanan). (Facebook/Sam Makarna)
Proses quality control BBM dilakukan sejak produk BBM masuk ke tangki timbun di Fuel Terminal (TBBM) hingga tepat sebelum disalurkan menuju SPBU.
"Proses quality control sebuah produk BBM sebelum bisa dinyatakan layak didistribusikan menuju SPBU ini dimulai dari saat produk tersebut disuplai dari kilang atau impor, saat penyimpanan, hingga sebelum disalurkan ke SPBU," terang Irto, dilansir dari laman Pertamina.
Sebelum produk BBM bisa masuk ke tangki timbun di Fuel Terminal, Pertamina terlebih dahulu memastikan produk BBM yang disuplai memiliki certificate of quality.
Baca Juga: Antrean Panjang di SPBU Pertamina Bikin Jenuh, Sudah Tahu Perbedaan Pertalite dan Pertamax?
Lalu produk BBM yang disuplai lewat pipa akan diuji speknya selama pemompaan ke tangki timbun.
Saat proses suplai melalui kapal juga dilakukan pengujian kelayakan.
"Ini adalah tahap awal. Jadi sebelum sebuah produk BBM bisa benar-benar masuk ke tangki timbun, sudah ada beberapa proses quality control," ujar Irto.
Proses quality control juga tetap dilakukan secara periodik saat penyimpanan BBM di tangki timbun.
Produk BBM secara berkala diuji tepat setelah proses pemompaan, baik dari pipa kilang atau impor hingga sebelum disalurkan ke mobil tangki.
Sebelum mobil tangki dapat keluar dari Fuel Terminal BBM dan menuju SPBU tujuannya, produk BBM akan kembali diuji di pintu keluar.
Kemudian Pertamina Patra Niaga juga melakukan pengecekan sebelum proses bongkar BBM dari mobil tangki hingga setelah seluruh produk BBM sudah tersalurkan ke tangki pendam SPBU.