“Selain itu, setelah dikupas untuk melihat QR code, label kemasan tidak bisa tertempel lagi,” kata Arief.
Ciri kedua adalah pada tutup botol. Ia mengatakan, tutup botol Yamalube yang asli tidak bisa dibuka dengan cara diputar. Tutup hanya dapat dibuka dengan alat khusus atau tang.
“Bagian samping tutup botol keras, tidak akan bisa dibuka dengan tangan. Namun, bagian tengahnya mudah dibuka dengan cara dibolongi dengan alat khusus atau tang,” jelas Arief.
Hasil uji lab tunjukkan perbedaan kandungan
Pada laporan investigasinya, Aant dan Popo juga sempat melakukan pengujian secara ilmiah terhadap beberapa sampel oli Yamalube yang sudah dibeli. Pengujian dilakukan di laboratorium Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas.
Adapun, indikator yang diuji adalah viskositas pada suhu 40 derajat Celcius dan 100 derajat Celcius, Total Base Number (TBN), dan AAS atau kandungan logam dalam oli.
Hasilnya, pada beberapa oli palsu memiliki viskositas yang hampir sama dengan oli asli. Meski demikian, ada pula beberapa sampel yang viskositas yang melebihi batas maksimum sehingga berbahaya bagi kendaraan. Pasalnya, pada kondisi mesin panas, oli tidak dapat melumasi komponen mesin.
Peneliti Produk BBM dan Pelumas Lemigas, Muhammad Fuad, menjelaskan bahwa ada beberapa fakta yang mencengangkan dari sampel oli palsu yang diuji.
“Dari lima sampel, ada dua yang mutunya di bawah standar. Ini dibuktikan dari pengujian TBN. Itu memiliki TBN nol. Padahal, minimal angka TBN adalah 6,” jelas Muhammad.
TBN adalah kuantitas zat aditif dispersan dan deterjen yang berfungsi membersihkan residu pembakaran pada mesin. Tanpa adanya zat aditif ini, mesin akan kotor. Nilai TBN pada mesin bisa juga menjadi indikator bahwa oli sudah harus diganti.
Kondisi mesin yang pernah terkena oli palsu. (DOK. Otomotif)
“Jadi, apabila disimpulkan ada oli palsu hanya lube base saja. Fungsinya melumasi. Nah, walaupun zat aditif biasanya hanya 10-20 persen kandungannya, fungsi membersihkan residu pembakaran ini penting. Apabila dipakai dalam jangka waktu lama, mesin bisa hitam seperti berjelaga,” lanjut Muhammad.
Sementara itu, dari segi viskositas, apabila di bawah standar atau tidak stabil, maka pelumasan mesin dalam kondisi panas juga tidak maksimal. Friksi antarkomponen mesin menjadi lebih besar.