Saat itu ia meminta petugas bernama Sabda untuk mengisi Pertalite sebesar Rp 150.000 dan setelah selesai, ia menyerahkan Rp 150.000 dengan menggunakan tiga lembar uang pecahan Rp 50.000 dengan cara dilipat dua.
Pegawai tersebut kemudian menerima uang, lalu Ririn meminta nota pembelian bensin tanpa melihatnya lebih dahulu.
"Terus pas sudah selesai, pas dicek lagi kok nggak naik-naik. Kita sempet mikir ya udah jalan dulu deh. Kita jalan sampai ke pertengahan Trans Studio Mall (TSM) sama Mang Kabayan tuh, kita puter balik karena dipikir-pikir kok nggak naik-naik,” jelasnya dikutip dari Kompas.com, Rabu (26/6/2024).
\Setelah berjalan beberapa saat, suaminya menyadari ada kejanggalan karena jarum indikator BBM tidak naik-naik. Setelah dilakukan pengecekkan pada nota, ternyata bensin yang tadi diisi hanya senilai Rp 100.000.
Dirinya lantas kembali lagi ke SPBU Buperta Cibubur dan mengantre pengisian bensin.
Ia menemui tigas petugas atas nama Sabda, Dedi, dan satu orang pengawas yang tidak diketahui namanya.
“Terus saya bilang ‘mas ini saya isi Rp 150.000, kok ini di struknya cuma Rp 100.000 terus juga di meterannya nggak naik, kalaupun naik cuma sedikit doang,’ gitu,” ujarnya.
Baca Juga: Pertamax Green 95 Serbu SPBU Pertamina, Pertalite Belum Ada Rencana Dihapus
Awalnya, petugas tetap berpendirian bahwa ia sudah mengisinya dengan bensin seharga Rp 150.000.
Kemudian mereka berinisiatif untuk mengecek uang setoran yang ada dan dilakukan pengecekan sekitar 15 menit.
“Pas udah 15 menit, katanya kelebihannya yang ada cuma Rp 20.000 saja dan itu dari tip kita hari ini dan uang saya yang Rp 50.000 nggak ada,” jelasnya.
Setelah itu, Ririn menyarankan untuk mengembalikan uang Rp 50.000 atau diisikan bensin kembali. Ia tidak keberatan jika harus mengantre lagi.
Penawaran tersebut ditolak oleh petugas atas nama Dedi dan ia masih memberikan pembelaan bahwa struk tersebut mungkin tertukar dengan pengendara lain karena sudah malam dan mungkin sudah lelah.