Ikhlas menjelaskan, riset Bobibos berdiri di atas tiga pilar utama: teknologi, komersialisasi, dan regulasi.
Dari sisi teknologi, tim berhasil merancang sendiri mesin biokimia yang mampu mengubah jerami menjadi bahan bakar melalui lima tahapan proses ekstraksi.
Hasilnya, kapasitas produksi kini telah mencapai 300 liter per hari, dengan potensi menghasilkan hingga 3.000 liter bahan bakar dari setiap hektare sawah terbagi rata untuk jenis bensin dan solar.
Bobibos juga sudah melalui berbagai pengujian, baik menggunakan sepeda motor seperti Honda BeAT, maupun mobil seperti Toyota Alphard.
Berdasarkan hasil uji di Balai Besar Migas LEMIGAS, bahan bakar ini memiliki angka oktan RON 98,1, melampaui bensin berstandar umum di pasaran.
Uji publik dijadwalkan berlangsung Februari 2026 di fasilitas riset Bobibos di Jonggol, sebelum produk ini melangkah ke tahap komersialisasi penuh.