MOTOR Plus-online.com - Musim mudik Lebaran selalu meninggalkan cerita unik bahkan tidak diduga.
Biasanya pemudik menggunakan motor atau mobil, berbeda dengan Sunaryo yang memilih pulang kampung dari Tangerang ke Klaten menggunakan sepeda.
Lelaki berusia 55 tahun itu harus menempuh perjalanan ratusan kilometer selama lima hari.
Mudik menggunakan sepeda bukan pengalaman pertama bagi Sunaryo. Ia mengaku tahun ini menjadi pengalaman keempatnya pulang kampung ke Klaten memakai sepeda.
Sunaryo mengenakan jersey berwarna kuning-oranye bertuliskan 'Gowes Mudik', helm, serta kacamata hitam saat melintas di Jalur Pantura, tepatnya di simpang empat Pemuda Kota Cirebon, Senin (16/3/2026).
Sunaryo terus mengayuh sepeda sambil membawa perlengkapan perjalanan di tas yang terpasang di bagian belakang sepedanya.
Sunaryo mengaku sudah memulai perjalanannya sejak Sabtu malam.
“Asal dari Tangerang, mau ke Klaten,” ujar Sunaryo dikutip dari Tribun Jabar, Senin (16/3/2026).
Baca Juga: Performa Lebih Responsif, Vespa Resmi Luncurkan Primavera dan Sprint 180cc Terbaru
“Sudah dari Sabtu malam berangkatnya. Ini sudah beberapa kali, sekarang tahun keempat mudik naik sepeda,” ucapnya.
Menurut Sunaryo, memilih sepeda sebagai alat transportasi mudik bukan tanpa alasan.
Ia memang memiliki hobi bersepeda sejak lama.
“Memang hobi bersepeda, jadi sekalian saja mudik naik sepeda,” jelas dia.
Perjalanan dari Tangerang menuju Klaten diperkirakan memakan waktu hampir lima hari.
Ia menargetkan tiba di kampung halaman pada Kamis mendatang.
“Kalau sampai Klaten mungkin masih hari Kamis,” katanya.
Meski harus menempuh perjalanan jauh, Sunaryo mengaku menikmati setiap momen selama perjalanan.
Baca Juga: Muncul Skutik Baru 150cc Musuh SPBU, Fitur Lengkap Harga Rp 19 Juta
Baginya, mudik dengan sepeda memberikan pengalaman tersendiri yang tidak bisa didapatkan jika menggunakan kendaraan lain.
“Ya happy saja, karena memang senang saja,” ujarnya, sambil tersenyum.
Dalam perjalanan tersebut, Sunaryo juga tidak sendirian.
Ia bersama sejumlah rekan pesepeda yang turut melakukan perjalanan mudik dengan cara serupa.
“Berangkatnya ramai, ada delapan orang. Teman-teman masih di belakang,” ucap Sunaryo.
Selama perjalanan, mereka biasanya beristirahat di berbagai tempat yang ramah bagi pesepeda.
“Kalau istirahat biasanya di komunitas-komunitas sepeda Federal atau di masjid,” jelas dia.
Menurutnya, salah satu keseruan mudik menggunakan sepeda adalah kesempatan bertemu banyak pesepeda dari berbagai daerah.
“Serunya karena hobi, terus bisa ketemu teman-teman penggowes juga dari mana-mana,” katanya.
Menariknya lagi, meski menempuh perjalanan jauh dengan sepeda, Sunaryo tetap berusaha menjalankan ibadah puasa selama Ramadan.
“Insyaallah puasa,” ujarnya, singkat.