Bahlil menegaskan, belum ada pembahasan resmi di tingkat pemerintah terkait kebijakan tersebut.
Ia mengakui tekanan global, termasuk konflik di Timur Tengah, telah mendorong harga minyak mentah dunia naik signifikan.
Dokumen yang beredar di media sosial yang memuat perkiraan kenaikan harga BBM nonsubsidi mulai 1 April 2026, termasuk proyeksi harga Pertamax yang naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp17.850 per liter. (Istimewa)
Bahkan, sejumlah negara seperti Thailand, Filipina, dan Australia telah lebih dulu menyesuaikan harga BBM di dalam negeri.
Namun, pemerintah Indonesia memilih menjaga stabilitas harga, khususnya untuk BBM subsidi, guna melindungi daya beli masyarakat.
Baca Juga: Antrean Panjang di SPBU Pertamina, Kementerian ESDM Pastikan Harga BBM Tidak Naik
Bahlil menambahkan, Presiden terus menyeimbangkan antara kebutuhan pembangunan dan perlindungan sosial di tengah situasi global yang tidak menentu.
Di sisi lain, pemerintah tetap membedakan kebijakan antara BBM subsidi dan non-subsidi.
Untuk BBM non-subsidi, khususnya yang digunakan sektor industri dan masyarakat mampu, harga tetap mengikuti mekanisme pasar.
Menurut Bahlil, kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi tidak semestinya bergantung pada BBM bersubsidi, sehingga beban subsidi negara dapat difokuskan kepada yang benar-benar membutuhkan.
Pemerintah pun meminta publik menunggu keputusan resmi, sembari memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil akan mengedepankan kepentingan masyarakat luas.