Find Us On Social Media :

Paling Mahal di Dunia, Negara Ini Jual Bensin Rp 70 Ribu Per Liter

By Sabtu, 04 April 2026 | 09:47
Di Hongkong, harga bensin per liter tembus Rp 70 ribu dan menjadi yang paling mahal di dunia. (hongkongfp.com)

MOTOR Plus-online.com - Perang diTimur tengah menyebabkan harga minyak mentah mengalami kenaikan.

Hal ini berimbas pada melonjaknya harga jual BBM di beberapa negara.

Di negara ini, harga bensin per liter tembus Rp 70 ribu dan menjadi yang paling mahal di dunia.

Di Hong Kong, harga bahan bakar minyak (BBM) dilaporkan jadi yang tertinggi di dunia, dipicu terganggunya pasokan energi global akibat konflik yang melibatkan Iran.

Melansir Kompas.com, harga bensin di pusat keuangan tersebut mencapai sekitar 15,6 dollar AS per galon.

Kalau dikonversi dengan kurs Rp 17.006 per dollar AS, angka itu setara kurang lebih Rp 265 ribu per galon, atau melampaui Rp 70 ribu per liter.

Kenaikan ini tak lepas dari melonjaknya harga minyak dunia dalam beberapa pekan terakhir.

Konflik antara Iran dan negara-negara Barat mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.

Baca Juga: Prabowo Subianto: Seluruh Motor di Indonesia Akan Dikonversi Jadi Motor Listrik

Ketergantungan tinggi kawasan Asia terhadap impor energi dari Timur Tengah membuat dampaknya terasa signifikan.

Di Hong Kong, lonjakan harga BBM berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus memperbesar biaya logistik lintas sector.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengguna kendaraan pribadi, tetapi juga dunia usaha secara luas, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga barang dan jasa kebutuhan sehari-hari.

Meski tingkat kepemilikan kendaraan di kota tersebut tergolong rendah sekitar 8,4 persen dari total populasi 7,5 juta jiwa kenaikan harga energi tetap memberi dampak besar terhadap aktivitas ekonomi.

Hal ini karena BBM memegang peran penting dalam distribusi barang, termasuk transportasi logistik dan layanan pengiriman.

Tekanan ini juga dirasakan pekerja sektor informal.

Seorang kurir layanan antar makanan mengeluhkan biaya operasional yang meningkat tanpa diimbangi kenaikan pendapatan.

Kondisi tersebut mencerminkan beban yang dihadapi para pekerja ekonomi gig yang sangat bergantung pada biaya transportasi.

Baca Juga: Ahli ITB Ungkap Bahaya Campur Bensin Pertalite dengan Pertamax Ternyata Efeknya Ada Dua Kerugian

Perbedaan harga BBM yang mencolok turut memengaruhi perilaku konsumen.

Sebagian warga Hong Kong kini memilih mengisi bahan bakar di kota-kota di China daratan, seperti Shenzhen, yang menawarkan harga jauh lebih rendah bahkan bisa hanya sepertiga dari harga di Hong Kong.

Fenomena ini meluas ke sektor konsumsi lainnya. Warga mulai berbelanja kebutuhan sehari-hari di luar kota demi mendapatkan harga yang lebih terjangkau.

Tren tersebut dikhawatirkan dapat menekan aktivitas ekonomi lokal dan memperberat kondisi perekonomian Hong Kong ke depan.