MOTOR Plus-online.com - Pro kontra usulan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menaikkan harga BBM memiliki alasan lain.
Bukan hanya untuk menekan defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) serta mengendalikan pertumbuhan utang negara tapi ada alasan lain.
Menurut Jusuf Kalla, dengan naiknya Harga BBM mengurangi mobilitas yang tidak perlu.
Dalam keterangannya di kediamannya di Jakarta Selatan, Minggu (5/4/2026), Jusuf Kalla menilai beban subsidi energi, khususnya BBM, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong pembengkakan defisit anggaran.
"Kita minta bahwa agar dipertimbangkan untuk mengurangi defisit, mengurangi utang dengan cara mengurangi subsidi. Karena mengurangi subsidi berarti menaikkan harga," kata Jusuf Kalla.
Lonjakan harga minyak dunia yang dipicu konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel turut memberi tekanan besar terhadap APBN Indonesia.
Dalam situasi tersebut, banyak negara memilih melakukan penghematan energi guna mengantisipasi potensi krisis dalam negeri.
JK mengingatkan, jika pemerintah tetap mempertahankan subsidi di tengah kenaikan harga global, maka konsekuensinya adalah peningkatan utang yang justru lebih berisiko dalam jangka panjang.
Baca Juga: Gantengnya Kebangetan, Honda CB125R Terbaru Resmi Mengaspal Segini Maharnya
Ia berpandangan, kenaikan utang justru lebih berbahaya dalam jangka panjang. Pada akhirnya, seluruh masyarakat Indonesia akan merasakan dampaknya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa kebijakan kenaikan harga BBM berpotensi memicu penolakan publik pada tahap awal.
Namun, berdasarkan pengalamannya, respons masyarakat sangat bergantung pada cara pemerintah dalam menyampaikan kebijakan tersebut.
"Jadi pilihan, ini masalah pilihan. Pengalaman saya 20 tahun memang kalau dijelaskan kepada rakyat dengan baik, rakyat akan menerima,” lanjutnya.
“2005, 2014, tidak ada demo karena kita jelaskan dengan baik. Apalagi ini masalah eksternal. Eksternal itu artinya terpaksa bagi kita terpaksa karena dari luar," jelas JK, dilansir dari Kompas.com.
Selain aspek fiskal, JK juga menyoroti dampak kenaikan harga BBM terhadap perilaku konsumsi masyarakat.
Ia menilai, kenaikan harga akan mendorong efisiensi penggunaan energi, termasuk mengurangi mobilitas yang tidak perlu.
JK juga menyinggung kebijakan bekerja dari rumah (work from home/WFH) yang dinilai kurang efektif jika tidak diikuti dengan pengendalian penggunaan energi.
Menurutnya, masyarakat tetap cenderung beraktivitas di luar rumah meski diberlakukan WFH.
"Anda tinggal di rumah 3 hari. Kalau Anda tinggal di rumah 3 hari kan bosan juga. Mau keluar lagi kan? Kalau keluar lagi pakai mobil lagi atau motor, ya sama saja sebenarnya," beber JK.
"Kalau (harga) naik, itu yang motor pasti kurang, pasti tinggal di rumah, pasti mungkin naik kendaraan umum macam-macam,”
“Itu lebih efektif dibanding tadi itu harus semua tinggal di rumah, Tapi dia keluar juga karena 3 hari itu long weekend ya," imbuh JK.