"Memang Menteri Keuangan menyatakan bahwa fiskal masih kuat gitu ya, bahkan tidak akan menaikkan sampai dengan akhir tahun," ujar Fahmy mengutip kontan.co.id, Senin (13/4/2026).
Fahmy menjelaskan bahwa upaya tersebut justru sangat riskan, apalagi sampai dengan saat ini perang masih berlangsung.
"Menurut saya ini cukup riskan gitu ya karena indikator yang digunakan itu timeframe, waktu sampai Desember, ini kan cukup lama," kata Fahmy.
Menurutnya memastikan kebutuhan stok BBM di Indonesia tetap aman. Namun, jika harga minyak mentah dunia terus melonjak, dipastikan beban APBN akan semakin membahayakan.
Baca Juga: Bangkit Lagi, Bajaj Pulsar 180 2026 Resmi Mengaspal Harga Terjangkau
"Mestinya yang digunakan sebagai indikator pemerintah, Menteri Keuangan misalnya mengatakan kalau harga mencapai 150 maka BBM akan dinaikkan. Nah, itu lebih realistis gitu ya, risikonya juga lebih rendah," kata Fahmy.
Fahmy menyarankan pemerintah RI bersikap realistis untuk harga BBM saat ini. Tujuannya, agar APBN tetap aman.
"Kalau sekarang pemerintah tidak juga menaikkan BBM non-subsidi saya kira ini juga kurang tepat gitu ya karena selama ini BBM non-subsidi itu harganya sudah ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar," kata Fahmy.
Namun, pakar energi asal UGM belum bisa memperkirakan kenaikan harga BBM ke depan. Tetapi, kenaikan harga BBM bisa dilihat melalui tiga variabel.
Salah satu variabel yang harus dipertimbangkan ialah harga minyak dunia. Jika harga minyak mentah dunia terus meningkat, maka pemerintah sepatutnya untuk meningkatkan harganya.
"Yang kedua adalah kurs rupiah terhadap dolar yang kita semakin lemah, ini mestinya juga harganya semakin mahal gitu ya. Yang ketiga adalah inflasi," ucapnya.
Maka itu, Fahmy meminta kepada pemerintah RI justru memperhatikan harga minyak mentah dunia, bukan malah memberikan jangka waktu untuk harga BBM tidak naik.
"Maka mestinya pemerintah itu menggunakan tolok ukur harga minyak dunia, misalnya kalau harga di atas 150 maka harga BBM subsidi dan non-subsidi harus dinaikkan misalnya," sebutnya.