MOTOR Plus-online.com - Situasi di timur tengah yang belum kondusif berefek kepada harga minyak mentah dunia.
Pertamina dan SPBU swasta akhirnya melakukan penyesuaian harga.
BBM non subsidi mengalami kenaikan, Pertamax Turbo dijual Rp19.900 per liter.
Sementara dua BBM jenis diesel, Pertamina Dex dan Dexlite juga ikut meroket harganya.
Kenaikan tertinggi terjadi pada Pertamina Dex (CN 53) yang naik Rp 4.000 dari sebelumnya Rp 23.900 per liter menjadi Rp 27.900 per liter.
Sementara itu, harga Dexlite (CN 51) naik Rp 2.400 dari Rp 23.600 per liter menjadi Rp 26.000 per liter.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kenaikan bahan bakar minyak (BBM) hanya diperuntukan untuk industri dan orang-orang kaya.
Bahlil menyebut, BBM non subsidi ini akan tetap mengikuti perkembangan harga dunia.
Baca Juga: Dijual Lebih Murah, FKM MTX 180 Skutik Baru Penantang NMAX Turbo
"Untuk BBM yang sifatnya industri atau hanya untuk orang-orang yang mampu, itu penyesuaiannya berdasarkan harga pasar," kata Bahlil di Istana Negara, mengutip Kontan.
Sementara itu, Bahlil memastikan untuk BBM subsidi baik bensin, solar maupun LPG dipastikan tidak ada kenaikan.
Hal ini juga sudah menjadi amanah langsung dari Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi dampak dari perang di Timur Tengah.
Sementara itu, Pertamina mempertahankan harga dua produk lainnya yakni Pertamax (RON 92) tetap Rp 12.300 per liter, serta Pertamax Green 95 (RON 95) tetap Rp 12.900 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV. Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mengikuti perkembangan harga global.
Menurutnya, evaluasi harga dilakukan secara berkala berdasarkan mekanisme keekonomian dengan mempertimbangkan dinamika harga minyak mentah dunia, harga produk olahan di pasar internasional, serta fluktuasi nilai tukar rupiah.
"Produk non subsidi pada prinsipnya mengikuti harga keekonomian dan mengacu pada ketentuan dan peraturan yang berlaku. Namun sebagai BUMN yang menjalankan mandat strategis negara, Pertamina tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis semata, tetapi juga memperhatikan kondisi terkini di masyarakat, daya beli pelanggan golongan pengguna BBM non subsidi, serta stabilitas nasional,” ujar Roberth dalam keterangan tertulis, Senin (4/5/2026).
Roberth menambahkan, Pertamina Patra Niaga tetap menjaga agar penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kebutuhan menjaga situasi yang kondusif.
Ia juga menegaskan bahwa harga BBM Pertamina masih tetap kompetitif dibandingkan badan usaha lain.
Karena itu, tidak semua produk mengalami penyesuaian harga, sebagian masih dipertahankan agar relevan dengan kebutuhan pelanggan.