MOTOR Plus-online.com - Beberapa pekan ini, Pertalite mulai langka di SPBU Pertamina.
Ada anggapan hal ini merupakan tanda-tanda penghapusan Pertalite secara bertahap.
Namun demikian, pihak Pertamina langsung memberikan jawaban atas kelangkaan BBM subsidi tersebut.
Di sejumlah kota besar maupun wilayah penyangga, pengendara mengeluhkan stok Pertalite yang sering kosong.
Tidak sedikit SPBU memasang pemberitahuan “Pertalite Habis” sebelum malam hari.
Akibatnya, masyarakat yang selama ini bergantung pada BBM subsidi terpaksa membeli Pertamax yang harganya lebih tinggi.
Kondisi ini dinilai cukup memberatkan, terutama bagi pengendara roda dua, pelaku UMKM, hingga pekerja sektor informal yang memiliki mobilitas tinggi.
Sejumlah warga mengaku pengeluaran harian mereka meningkat akibat harus beralih sementara ke BBM nonsubsidi.
Baca Juga: Kapan Waktu yang Tepat Ganti Gir Set Motor, Ini Kata Mekanik
Selain itu, meningkatnya jumlah SPBU Pertamina Signature juga dinilai mempersempit akses masyarakat terhadap BBM subsidi.
SPBU jenis ini memang dirancang untuk melayani konsumen kendaraan modern dengan bahan bakar berkualitas tinggi dan rendah emisi.
Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia sekaligus pengamat kebijakan publik, Agus Pambagio, menilai kelangkaan Pertalite bukan sekadar persoalan distribusi biasa.
Menurutnya, pemerintah sejak lama memang memiliki agenda mengurangi ketergantungan terhadap BBM subsidi.
“Pertalite memang sejak dulu arahnya mau dihilangkan karena subsidi pemerintah semakin berat,” ujar Agus, melansir aceh.tribunnews.com.
Ia menjelaskan, kemampuan fiskal negara untuk terus menanggung subsidi energi semakin terbatas. Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan pasokan dan impor bahan bakar.
Menurut Agus, kondisi ekonomi global, fluktuasi harga minyak dunia, serta tekanan terhadap anggaran negara membuat keberlanjutan subsidi BBM menjadi semakin sulit dipertahankan.
“Uang subsidinya makin besar. Beban negara juga berat. Jadi cepat atau lambat akan diarahkan ke BBM yang kualitasnya lebih tinggi,” katanya.
Baca Juga: Suzuki GN 160, Motor Kopling Retro Harganya di Atas W175 dan XSR 155
Selain faktor ekonomi, alasan lingkungan disebut menjadi faktor utama di balik wacana penghapusan Pertalite.
Pemerintah saat ini tengah mendorong penerapan standar emisi Euro 4 untuk menekan polusi udara dan meningkatkan kualitas lingkungan, terutama di kota-kota besar.
Namun, BBM dengan RON 90 seperti Pertalite dinilai belum sepenuhnya mendukung standar tersebut.
Kendaraan modern dengan teknologi mesin terbaru lebih ideal menggunakan BBM minimal RON 92 seperti Pertamax.
Agus menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar beroktan lebih rendah dapat menghasilkan emisi yang lebih tinggi dan kurang efisien untuk kendaraan generasi baru.
“Ke depan memang arahnya ke Euro 4. Kalau standar emisi naik, maka kualitas BBM juga harus naik. Minimal masyarakat diarahkan menggunakan Pertamax,” ujarnya.
Ia juga menyebut transisi ini sebenarnya telah dirancang sejak lama dan dilakukan secara bertahap.
Meski demikian, pemerintah dan Pertamina sebelumnya telah beberapa kali menegaskan bahwa belum ada keputusan resmi mengenai penghapusan Pertalite dalam waktu dekat.
Baca Juga: Barang Langka, Piaggio Vespa LXV 150 ie 3V Tahun 2014 Dilelang Segini
Pertamina memastikan distribusi Pertalite tetap berjalan sesuai kuota yang ditetapkan pemerintah.
Adapun kelangkaan di sejumlah daerah disebut lebih disebabkan tingginya konsumsi masyarakat dan pengaturan distribusi.
Pemerintah juga menegaskan bahwa kebijakan terkait BBM subsidi akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.