MOTOR Plus-online.com - Ramai soal harga minya mentah dunia yang semakin melemah, ada kemungkina harga Pertamax turun.
Saat ini Pertamax dijual Rp16.250 per liter dan Pertamax Green Rp17.000 per liter.
Dengan fakta di atas, jenis BBM non subsidi bisa mengalami penyesuaian harga.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Green 95 berpotensi turun, setelah sebelumnya mengalami kenaikan.
Ia menilai perekonomian Indonesia mulai keluar dari periode tekanan berat yang dipicu geopolitik di Timur Tengah, terutama lonjakan harga minyak dunia.
Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang lebih baik dibandingkan beberapa bulan sebelumnya, sehingga Indonesia dinilai telah berhasil melewati fase paling sulit itu.
Karena itu, fokus pemerintah ke depan bukan lagi sekadar bertahan dari tekanan eksternal, melainkan memperkuat fondasi ekonomi yang sudah ada.
“Kalau dilihat dari data yang sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan, tinggal memperbaiki fondasi yang sudah ada supaya dengan perbaikan yang ada, kita bisa tumbuh lebih optimal," ujar Purbaya saat rapat kerja dengan Komite IV DPD RI, Senin (22/6/2026), melansir Kompas.com.
Baca Juga: Hadiah HUT Kota Jakarta ke-499, Pemprov DKI Kasih Keringanan Denda Pajak Kendaraan
Eks Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu meyakini potensi penurunan harga minyak dunia akan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Sebab, harga BBM non-subsidi seperti harga Pertamax dan Pertamax Green 95 dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak global.
Jika harga minyak dunia turun, biaya energi dapat berkurang sehingga harga BBM non-subsidi berpeluang ikut menurun.
Pada akhirnya, stabilitas harga energi dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
“Saya yakin dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun sehingga fondasi pertumbuhan ekonomi kita akan semakin kuat," paparnya.
Kondisi ekonomi Indonesia beberapa waktu terakhir memang tidak sepenuhnya ideal karena dipengaruhi berbagai tekanan global, mulai dari lonjakan harga minyak dunia hingga meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Dalam situasi tersebut, pemerintah harus mengambil sejumlah langkah penyesuaian untuk mengurangi dampak negatif yang bisa merembet ke perekonomian domestik.
Menurutnya, kebijakan dilakukan bukan karena kondisi ekonomi dalam negeri bermasalah, melainkan langkah menjaga stabilitas dan daya tahan ekonomi nasional.
Hasilnya, meski menghadapi tekanan yang cukup besar, perekonomian Indonesia dinilai masih mampu bertahan dan mencatatkan pertumbuhan yang relatif baik.
“Jadi keadaan memang bukan ideal, tetapi kita terpaksa mengambil tindakan untuk memitigasi dampak global supaya kita masih bisa bertahan. Dan alhamdulillah sampai sekarang masih bisa tumbuh baik kan," pungkas dia.