Find Us On Social Media :

Koflik AS-Iran Mereda, Harga Pertamax Kemungkinan Bisa Turun

By Rabu, 24 Juni 2026 | 09:36
Saat ini Pertamax dijual Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter. (GridOto)

MOTOR Plus-online.com - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dengan Iran mulai mereda.

Hal ini berimbas pada harga minyak mentah dunia yang mengalami penurunan signifikan.

Melihat fakta tersebut, harga Pertamax yang melonjak tinggi kemungkinan bisa turun.

Saat ini Pertamax dijual Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter.

Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, mengatakan dinamika geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif sepanjang 2026.

Ketegangan kedua negara di Timur Tengah sempat mengerek harga minyak ke level 120 dollar AS (Rp2,1 juta) per barrel, namun kini melandai ke level 80 dollar AS (Rp1,4 juta) per barrel pada 22 Juni 2026.

Dengan perkembangan itu, dia menilai pemerintah dan PT Pertamina (Persero) memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.

Menurut Piter, penyesuaian semacam ini wajar selama dilakukan secara terukur.

Baca Juga: Honda Ryden 160, Skutik Terbaru yang Akan Diluncurkan AHM Besok?

Penyesuaian tidak berarti mengembalikan harga ke level tertentu, melainkan mengikuti tren penurunan harga minyak yang terjadi di pasar global.

"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter dalam keterangannya, melansir Kompas.com.

Lebih lanjut, ia menilai penyesuaian harga Pertamax penting untuk mengurangi potensi perpindahan konsumen ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.

Piter bilang, gejala tersebut mulai terlihat dari meningkatnya antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.

Jika perpindahan konsumen terus terjadi, konsumsi Pertalite bisa melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.

"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ungkapnya.

Meski begitu, Piter tetap mengingatkan bahwa kondisi pasar energi global masih rentan terhadap perkembangan geopolitik, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan belum tuntasnya perundingan lanjutan antara kedua negara.

Fluktuasi harga minyak dunia tersebut akan sangat mempengaruhi harga energi di dalam negeri.

Baca Juga: Investasi Lebih dari Rp 1 Triliun, ALVA Siap Jadi Kendaraan Listrik Utama

Maka dari itu, dalam mengatasi persoalan konsumsi energi, Piter menilai perlunya pembagian peran yang jelas antara BBM subsidi dan nonsubsidi.

Prinsip ini membuat perekonomian lebih terkendali.

Kewajiban pemerintah adalah menjaga keterjangkauan BBM subsidi bagi masyarakat yang berhak, sementara BBM nonsubsidi mengikuti mekanisme pasar.

Ia menyebut, pemerintah perlu melakukan perbaikan sistem distribusi BBM subsidi agar lebih tepat sasaran. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan subsidi energi benar-benar dinikmati kelompok masyarakat yang berhak menerima.

"Pemerintah perlu memastikan distribusi Pertalite tetap tepat sasaran. Mekanisme penyalurannya harus diperbaiki agar BBM subsidi benar-benar sampai kepada yang berhak," kata Piter.