Sebelumnya, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai harga minyak dunia yang memasuki tren penurunan bisa menjadi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax.
Ia mengatakan, dinamika geopolitik AS dan Iran membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif sepanjang 2026, namun kini kian melandai.
Dengan perkembangan itu, dia menilai pemerintah dan Pertamina memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.
Menurut Piter, penyesuaian ini wajar selama dilakukan secara terukur.
Baca Juga: Motor Bebek Sultan, Honda Super Cub C125 2026 Sekarang Dijual Segini
Penyesuaian tidak berarti mengembalikan harga ke level tertentu, melainkan mengikuti tren penurunan harga minyak yang terjadi di pasar global.
"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Dia menilai penyesuaian harga Pertamax penting dilakukan untuk mengurangi potensi perpindahan konsumen ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
Sebab, jika perpindahan konsumen terus terjadi, konsumsi Pertalite bisa melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ungkapnya.