MOTOR Plus-online.com - Konflik AS-Iran mulai mereda dan berimbas pada turunnya harga minyak mentah dunia.
Ada kemungkinan harga Pertamax series yang meroket kembali turun.
Saat ini Pertamax dijual Rp16.250 per liter, Pertamax Green Rp17.000 per liter dan Pertamax Turbo Rp20.750 per liter.
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia langsung memberikan tanggapan soal kemungkinan harga Pertamax turun.
Bahlil menanggapi potensi penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax, seiring tren penurunan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah Brent terpantau sudah turun ke level 70 dollar AS per barrel, setelah sebelumnya pernah di atas 120 dollar AS per barrel sejak perang Amerika Serikat-Israel dengan Iran mencuat akhir Februari 2026.
Bahlil menyatakan, belum ada kepastian apakah harga Pertamax pada bulan Juli 2026 akan mengalami penurunan harga atau tidak.
Menurutnya, perkembangan lebih lanjut perlu dilihat.
Baca Juga: Harga Pertalite dan Solar Naik atau Tidak? Begini Kata Bahlil Lahadalia
Ia bilang, penyesuaian harga harus dilakukan secara adil, mengingat harga Pertamax sempat tidak mengalami kenaikan selama dua hingga tiga bulan, meski harga minyak dunia saat itu trennya meningkat.
"Kita lihat saja. Kita juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik dua bulan lebih, hampir tiga bulan, kan enggak kita naikkan (Pertamax). Masa baru naik 2-3 minggu, teman-teman sudah tanya itu," kata Bahlil di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (29/6/2026) mengutip Kompas.com.
Penyesuaian harga memang umumnya dilakukan secara berkala oleh badan usaha SPBU, tak terkecuali Pertamina.
Setidaknya setiap awal bulan dilakukan penyesuaian harga dengan mengacu pergerakan harga minyak dunia.
Sebelumnya, Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah, menilai harga minyak dunia yang memasuki tren penurunan bisa menjadi ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax.
Ia mengatakan, dinamika geopolitik AS dan Iran membuat harga minyak dunia bergerak fluktuatif sepanjang 2026, namun kini kian melandai.
Dengan perkembangan itu, dia menilai pemerintah dan Pertamina memiliki ruang untuk menyesuaikan harga Pertamax mengikuti harga pasar, sekaligus menjaga BBM bersubsidi tetap tepat sasaran.
Menurut Piter, penyesuaian ini wajar selama dilakukan secara terukur.
Baca Juga: Motor Bebek Sultan, Honda Super Cub C125 2026 Sekarang Dijual Segini
Penyesuaian tidak berarti mengembalikan harga ke level tertentu, melainkan mengikuti tren penurunan harga minyak yang terjadi di pasar global.
"Penurunan harga minyak dunia membuka ruang bagi pemerintah untuk menyesuaikan harga Pertamax. Penyesuaian ini bukan mengembalikan ke harga lama, melainkan menurunkan secara wajar mengikuti perkembangan pasar. Seberapa besar angkanya, pemerintah dan Pertamina yang memegang perhitungannya," ujar Piter dalam keterangannya, Selasa (23/6/2026).
Dia menilai penyesuaian harga Pertamax penting dilakukan untuk mengurangi potensi perpindahan konsumen ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
Sebab, jika perpindahan konsumen terus terjadi, konsumsi Pertalite bisa melampaui kuota yang telah ditetapkan pemerintah untuk tahun ini.
"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," ungkapnya.