Fahmy mengatakan, penurunan ketiga BBM sebelumnya itu belum berdampak besar.
Karena ketiga BBM ini punya RON dan CN tinggi, sehingga hanya cocok untuk kendaraan dengan performa tinggi atau kendaraan dengan harga yang cukup mahal.
"Kan jenis bahan bakar itu cocoknya mobil tertentu dan mahal. Jadi ya targetnya kelas menengah ke atas. Mereka yang merasakan," kata dia.
Perlu diketahui, Pertamax Turbo memiliki Research Octane Number (RON) 98, Pertamina Dex punya Cetane Number (CN) 53 dan Dexlite dengan CN 51.
Baca Juga: Suzuki Saluto 125 2026 Tampil Makin Mewah, Siap Dijual di Indonesia?
Sementara untuk Pertamax, memiliki RON 92 dan penggunanya kebanyakan kelas menengah.
Termasuk juga driver ojol yang menggunakan Pertamax untuk kendaraannya.
Dari jumlahnya saja, kata Fahmy, kelas menengah itu sangat besar dibanding kelas atas.
Sehingga saat ada penurunan BBM yang itu bukan Pertamax, jelas tak berdampak besar bagi kelas menengah.
"Itu sebabnya, kelas menengah justru bermigrasi ke jenis BBM subsidi yaitu Pertalite. Kalau ada migrasi ini, bebannya bertambah," tambah pakar asal Universitas Gadjah Mada (UGM).
Saat terjadi migrasi konsumen ke Pertalite, dampaknya kuota Pertalite harus ditambah sehingga beban fiskal juga semakin besar.
"Maka itu sangat disayangkan Pertamax tidak diturunkan. Terlepas apakah sesuai dengan harga keekonomian, saya kira kebijakan ini kurang tepat. Masyarakat tidak mungkin berpindah ke tiga BBM yang diturunkan, kecil sekali kemungkinannya," terangnya.
Fahmy mengatakan penurunan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite tidak langsung menahan laju inflasi.