Kitty pun menegaskan, penyesuaian harga BBM non-subsidi ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah.
Melalui evaluasi tersebut, Pertamina menurunkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur.
Sedangkan untuk harga Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih menunggu perkembangan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.
"Terkait penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty melansir Kontan.co.id.
Baca Juga: Maluku dan Papua Barat Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan 2026, Apa Saja yang Gratis?
Dihubungi terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi memandang penurunan harga solar non-subsidi, Pertamax Turbo, dan avtur akan mengurangi biaya operasional sektor transportasi, logistik, industri, dan penerbangan.
Kholid berharap penyesuaian harga ini akan menjadi sinyal positif yang membangkitkan kepercayaan masyarakat.
Di sisi lain, Kholid mengungkapkan bahwa penetapan harga BBM tidak hanya didasarkan pada harga minyak di satu titik waktu.
Tetapi juga melihat tren harga, biaya persediaan (inventory cost), nilai tukar rupiah, serta keberlanjutan bisnis.
Apalagi, dunia masih menghadapi ketidakpastian pasar energi global karena labilnya situasi di Selat Hormuz.
Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga terkait dengan strategi korporasi di masing-masing badan usaha.
Kholid menyoroti keputusan Pertamina mempertahankan harga RON 92 dan RON 95, yang kemungkinan bisa jadi merupakan bagian dari strategi korporasi memulihkan biaya keekonomian Pertamax dan Pertamax Green yang ditahan selama beberapa bulan sebelumnya.
Dalam hal ini, Kholid menekankan pentingnya konsistensi dan transparansi dalam mekanisme penyesuaian harga maupun penyediaan energi.