Find Us On Social Media :

Harga Pertamax dan Pertamax Green Kapan Turun? Begini Jawaban Pertamina

By Rabu, 08 Juli 2026 | 09:15
Penyesuaian harga BBM non-subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia serta mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. (TribunJateng)

MOTOR Plus-online.com - Pertamina resmi menurunkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex dan Avtur.

Sementara harga Pertamax dan Pertamax Green masih mahal belum turun.

Kapan harga Pertamax dan Pertamax Green turun seperti Pertamax Turbo?

Pertamax Turbo, turun dari Rp 20.750 per liter menjadi Rp 19.300 per liter.

Pertamina Dex, turun dari Rp 24.800 per liter menjadi Rp 21.150 per liter.

Dexlite, turun dari Rp 23.000 per liter menjadi Rp 19.700 per liter.

Avtur Penerbangan Domestik (sebelum pajak) di Soekarno Hatta turun dari Rp 22.190 per liter (Juni) menjadi Rp 19.190 per liter (Juli).

Penurunan harga belum terjadi pada BBM non-subsidi RON 92 dan RON 95. Pertamina masih membanderol Pertamax di harga Rp 16.250 per liter.

Baca Juga: Syarat Ambil Motor Disita di Kantor Polisi, Harus Bayar Berapa?

Begitu juga dengan Pertamax Green yang masih berada di harga Rp 17.000 per liter.

Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora mengungkapkan bahwa penyesuaian harga merupakan bagian dari evaluasi berkala sesuai mekanisme yang berlaku.

Kebijakan ini mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia, pertimbangan aspek fiskal serta daya beli dan perekonomian masyarakat.

Penyesuaian harga BBM non-subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia serta mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku.

Kitty pun menegaskan, penyesuaian harga BBM non-subsidi ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah.

Melalui evaluasi tersebut, Pertamina menurunkan harga Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, dan Avtur.

Sedangkan untuk harga Pertamax dan Pertamax Green, Pertamina masih menunggu perkembangan dan evaluasi yang dilakukan secara berkala.

"Terkait penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green, kami akan mengikuti perkembangan selanjutnya serta melakukan evaluasi secara berkala bersama dengan pihak terkait dan Pemerintah," kata Kitty melansir Kontan.co.id.

Baca Juga: Maluku dan Papua Barat Gelar Pemutihan Pajak Kendaraan 2026, Apa Saja yang Gratis?

Dihubungi terpisah, Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Konsumen Muhammad Kholid Syeirazi memandang penurunan harga solar non-subsidi, Pertamax Turbo, dan avtur akan mengurangi biaya operasional sektor transportasi, logistik, industri, dan penerbangan.

Kholid berharap penyesuaian harga ini akan menjadi sinyal positif yang membangkitkan kepercayaan masyarakat.

Di sisi lain, Kholid mengungkapkan bahwa penetapan harga BBM tidak hanya didasarkan pada harga minyak di satu titik waktu.

Tetapi juga melihat tren harga, biaya persediaan (inventory cost), nilai tukar rupiah, serta keberlanjutan bisnis.

Apalagi, dunia masih menghadapi ketidakpastian pasar energi global karena labilnya situasi di Selat Hormuz.

Selain itu, penyesuaian harga BBM non-subsidi juga terkait dengan strategi korporasi di masing-masing badan usaha.

Kholid menyoroti keputusan Pertamina mempertahankan harga RON 92 dan RON 95, yang kemungkinan bisa jadi merupakan bagian dari strategi korporasi memulihkan biaya keekonomian Pertamax dan Pertamax Green yang ditahan selama beberapa bulan sebelumnya.

Dalam hal ini, Kholid menekankan pentingnya konsistensi dan transparansi dalam mekanisme penyesuaian harga maupun penyediaan energi.

Baca Juga: Yamaha Siap Luncurkan Motor Listrik Baru, Bisa Pakai Baterai Honda

"Jika tren harga minyak dunia turun, penurunan harga BBM akan menumbuhkan kepercayaan pasar dan konsumen. Penyedia energi juga perlu transparan terkait dasar perhitungan harga, sehingga masyarakat memahami mengapa suatu jenis BBM turun sementara lainnya tetap," kata Kholid.

Anggota DEN Unsur Pemangku Kepentingan dari Kalangan Industri, Satya Widya Yudha menilai penyesuaian harga BBM non-subsidi sudah cukup ideal sebagai respons terhadap harga pasar.

Penurunan harga terlebih dulu dilakukan kepada BBM non-subsidi jenis diesel, Pertamax Turbo dan Avtur yang terlebih dulu mengalami kenaikan harga.

"Sementara waktu itu Pertamax RON 92, dan RON 95 yang seharusnya ikut naik, tetapi tetap ditahan oleh pemerintah. Sehingga saat ini masih dihitung penyesuainnya," kata Setya.