Kebetulan, almarhum Hoegeng ternyata kawan dekat mantan ketua PWI Pusat, Mahbub Djunaidi, yang juga sudah almarhum.
Pak Mahbub sendiri adalah ayahanda dari bro lsfan, salah satu teman redaksi MOTOR Plus pada saat itu.
Mantal Kapolri Jenderal Hoegeng. (Intisari)
Baca Juga: Mantan Kapolri Jenderal Hoegeng, Satu dari Tiga Polisi Jujur Menurut Gus Dur
"Awal 80-an, beliau pernah main ke rumah dan curhat ke papa saya," ingat bro lsf@n yang saat itu masih kecil.
"Saya (Pak Hoegeng) mewajibkan helm kok malah dibilang macem-macem. Kelak bangsa ini akan akan tahu dan sadar pentingnya helm," ujar pak Hoegeng ke ayahanda bro Isf@n.
Bicara soal pak Hoegeng, pernah ada ungkapan di kalangan masyarakat, ada 2 polisi yang tak bisa disuap, satu Pak Hoegeng Iman Santoso, satunya lagi polisi tidur.
Ungkapan ini sebenarnya sebuah gambaran, bagaimana jujur dan bersihnya pak Hoegeng.
Saking jujurnya, dia pernah menolak diberikah mobil dan rumah, waktu itu dia sudah punya mobil dinas kepolisian.
Presiden Soekarno menunjuknya untuk rangkap menjabat Dirjen Imigrasi.
Nah, Sekretariat Negara (Setneg) memberinya lagi mobil dinas imigrasi, namun ditolak.
Alasannya, mobil dinas kepolisiannya masih ada, begitu juga ketika menjabat Menteri luran Negara, dia menolak rumah dinas di Jalan Protokol.
Istri dan cucu Jenderal Hoegeng foto bersama anggota dan Ketua AISI di acara MOTORPlus Award 2008. (Dok MOTOR Plus)
Baca Juga: Anak Kapolri Mau Balapan Jadi Sales Spare Part di Asam Reges Jakarta
Alasannya, rumahnya di Jalan Prof. Moh. Yamin, Jakarta Pusat sudah cukup.