Sripeni Inten Cahyani mengakui ada target sekitar 6 juta unit motor listrik tahun 2030 mendatang. (MOTOR Plus-online/ Indra GT)
Dengan demikian, tidak banyak motor dirumah karena bisa dimanfaatkan untuk dikonversi menjadi motor listrik.
"Misalkan ada tiga motor di rumah, kan satu atau dua bisa dikonversi menjadi motor listrik. Biayanya juga tidak mahal dan tidak kebanyakan motor juga di rumah. Jadi lebih efektif dan bisa dimanfaatkan," sarannya.
Sebagai sosok yang gencar mensosialisasikan konversi motor listrik, Inten memang bukan orang baru di dunia perlistrikan.
Ia pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama PLN pada 2019 silam.
Baca Juga: Profil Heret Frasthio CEO Elders Garage, Dari Motor Custom Hingga Konversi Motor Listrik
Sementara di bidang kelistrikan, Inten juga pernah menjadi Direktur Utama Indonesia Power, anak perusahaan PLN pada tahun 2016.
Terkait bidang otomotif, Inten bersama Kementerian ESDM kini menekankan pentingnya konversi motor listrik dari basis motor bermesin bakar.
Konversi motor listrik saat ini menjadi salah satu program Kementerian ESDM.
Hal ini guna mendorong penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) sebanyak 13 juta motor.
Target lain dari konversi motor listrik adalah untuk menghentikan impor BBM pada 2030 dan bisa menghemat devisa sebesar 16,7 miliar USD atau Rp 253 triliun per tahun selama 2021-2040 (kurs Rp 15.176 per 1 USD).
Konversi motor listrik juga dinilai menarik, sebab Indonesia tercatat memiliki 126.588.509 unit motor bakar pada 2019 menurut data Kementerian ESDM dari sumber bps.go.id.
"Motor listrik hasil konversi dapat memperkuat ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Namun pemerintah perlu memberi insentif yang lebih untuk konversi, karena melibatkan jasa dengan skala UKM yang perlu dibina," lanjutnya lagi.