Dalam kondisi normal, SPBU tersebut dapat menghabiskan sekitar 14 hingga 20 ton Pertalite per hari, tergantung kondisi permintaan dan ketersediaan stok.
“Dalam sehari kami biasanya menghabiskan 14 sampai 20 ton Pertalite, tergantung pada hari dan ketersediaan barang juga,” katanya.
Ia menambahkan, mayoritas pelanggan Pertalite di SPBU tersebut merupakan masyarakat sekitar Desa Nibung dan wilayah Koba.
Sementara kendaraan dari luar daerah yang singgah untuk mengisi BBM tidak terlalu banyak.
Baca Juga: Kenalan dengan Honda WN7, Motor Listrik Futuristik Bisa Lari Ratusan Kilometer
“Rata-rata pelanggan yang datang didominasi warga sekitar yang membeli Pertalite. Untuk pelanggan yang sekadar lewat dari luar daerah tidak banyak,” ungkapnya.
Meski layanan Pertalite dihentikan sementara, Ruli memastikan pelayanan BBM jenis lainnya tetap berjalan normal. SPBU masih melayani pembelian BBM non subsidi seperti Pertamax dan Dexlite serta BBM subsidi jenis Solar.
“Untuk minyak jenis lainnya kami tetap melayani seperti biasa. BBM non subsidi Pertamax dan Dexlite serta subsidi jenis Solar masih berjalan seperti biasanya,” katanya.
Terkait kondisi pegawai, Ruli memastikan tidak ada pemberhentian karyawan akibat sanksi tersebut. Seluruh pekerja tetap menjalankan tugas sesuai jadwal yang telah ditentukan.
“Untuk saat ini tidak ada pemecatan. Para pegawai masih mengisi shift yang telah ditentukan. Kami dibina untuk memberikan pelayanan lebih baik,” tutupnya.